Rabu, April 20, 2011

analis kesehatan







TBC (Tuberkulosis)
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia.


Pemeriksaan TBC /Sputum (Dahak) dengan Menggunakan Pewarnnaan Ziehl Neelsen


Prinsip Pemeriksaan

Dinding Sel BTA terdiri dari lapisan Peptidoglkan dasn senyawa lipid, bila diwarnai dengan Carbol fuchsin maka zat warna akan meresap kedalam dinding sel dengan baik bila dipanaskan. Asam mycolat yang terdapat dipori – pori dinding sel akan berikatan dengan fuchsin sehingga warna merah sulit dilunturkan dengan asam alkohol. Zat warna Methylen Blue merupakan Counter stain sebagai warna dasar


Komposisi Ziehl Neelsen


Carbol fuchsin 0,3%

Asam Alkohol 3 %

Methylen Blue 0,3 %



PROSEDUR PEWARNAAN


1. Letakkan sediaan dengan bagian apusan menghadap keatas, diatas rak pengecatan dengan jarak 1 jari antara satu sediaan dengan sediaan yang lain

2. Tuanggi Carbol fuchsin 0,3 % melalui kertas saring sampai menutupi seluruh permukaan sediaan

3. Dengan sulut api bagian bawah sediaan dipanasi sampai timbul uap (jangan sampai mendidih)

4. Diamkan selama 5 menit.

5. Bilas sediaan dengan air mengalir secara hati-hati

6. Genangi sediaan dengan Alkohol Asam 3% sampai seluruh warna mereah Carbol fuchsin hilang/ luntur, bilas dengan air mengalir.

7. Genangi sediaan dengan Methylen Blue 3% selama 10-20 detik.

8. Bilas dengan air mengalir, kemudian sediaan dikeringkan pada rak pengering

9. Sediaan diperiksa dengan mikroskop perbesaran 10x100


PEMBACAAN/ INTERPRETASI HASIL

BTA Positip bila ditemukan kuman bentuk batang berwarna merah tereang, dengan warna dasar birutanpa ada kotoran sisa pewarnaan.


PEELAPORAN HASIL DENGAN SKALA IUATLD

BTA dihitung daslam 100 lapang pandang mikroskop.


BTA Negatip : Tidak ditemukan BTA / 100 lapang pandang

BTA Scenty : Ditemukan 1 – 9 BTA / 100 lapang pandang atau ditulis jumlah BTA yang

ditemukan dalam 100 lapang pandang

BTA 1+ : ditemukan 10 – 99 BTA / 100 lapang pandang

BTA 2+ : ditemukan 1 – 10 BTA / 1 lapang pandang

BTA 3+ : ditemukan > 10 BTA / 1 lapang pandang
Diposkan oleh Moel Tyas di 07:02 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
Kamis, 29 Juli 2010
URINALISA
PEMERIKSAAN URIN RUTIN

1.Warna/kejernihan
2.Jumlah Urin
3.Berat Jenis Urin
4. pH
Caranya :
Sebelum digunakan urinometer dikalibrasi dengan menggunakan aquades, apabila urinometer terapung pada posisi pada skala angka 0 berarti bias digunakan.
Tuang urin kedalam gelas ukur kurang lebih 25 ml
Kemudian masukkan urinometer pada gelas ukur yang telah diberi urin tadi.
Kemudian putar dengan jari lalu baca pada saat posisi tegak dan t idak menempel pada dinding gelas.
Nilai normal Bj : 1003-1030
Bj terbaca x (suhu ruang-suhu tera)/3 x 0,001

5. Mikroskopis/sedimen urin
Caranya:
Masukkan urin dalam tabung sentrifuge kemudian diputar selama 5 menit dengan kecepatan 1500-2000 rpm.
Buang supernatant residu dicampur dengan reagen stainhalmer malbin
Kocok taruh 1 tetes campuran tadi pada objek glas tutup dengan deglas amaati dibawah mikroskop.

6. Protein
Caranya :
Urin dimasukkan dalam tabung 2/3 penuh
Dengan posisi miring bagian atas dinding tabung dipanasi diatas api sampai mendidih
Lalu dibandingkan antara lapisan atas dan lapisan bawah.
Jika terjadi kekeruhan maka kemungkinan pnyebabnya adalah protein, calcium karbonat, calcium fosfat.
Jika kekeruhan tadi ditetesi dengan asam acetat 6% kedalam urin yang masih pasan, jika hilang penyebabnya bukan protein, jika tetap penyebabnya bias protein
Pembacaan hasil
- : tidak ada kekeruhan
+ : terjadi kekeruhan ringan tanpa bitir kadar 0,01- 0,05 %
++ : ada kekeruhan dan butir-butir kadar 0,05-0,2
+++ : urin jelas keruh dan berkeping-keping kadar 0,2-0,5 %
++++ : urin jelas keruh bergumpal-gumpal kadar > 5%

7. Glukosa
Caranya :
Tabung reaksi diisi dengan reagen Benedict sebanyak 5 ml
Tambah dengan 5-8 tetes urin, kocok sampai homogeny
Dipaaskan diatas api sampai mendidih
Angkat tabung kocok dan amati
Pembacaan hasil :
(-) : tidak terjadi perubahan warna
(+) : hijau kekuningan dan keruh(0,5-1%)
(++) : kuning keruh (1-1,5%)
(+++) : jingga/lumpur keruh (2-3,5%)
(++++) : merah keruh (>3,5%).



PEMERIKSAN URIN KHUSUS

1. BILIRUBIN
Prinsip : adanya bilirubin akan dioksidasi olh reagen faucet menjadi biliferdin yg berwarna hijau. Dimana sebelumnya bilirubin diendapkan oleh BaCl2
Prosedur :
masukkan 3 ml urin pd tabung reaksi
kemudian ditambahkan bdg 3 ml BaCl 10% dicamapur dan disaring
hasil presipitat pd kertas saring dikeringkan, kemudian setelah kering kertas yang ada presipitat kering ditetesi dg larutan faucet.
Hasil :
(-) jika tidak ada perubahan warna
(+) jika terjadi warna hijau makin lama makin jelas


2. UROBILIN
Prinsip : Reaksi antara Urobilin dengan reagen Schlesinger membentuk flurenssensihijau terang dimana penambahan lugol pada pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengokidasi urobilinogen. Karena dalam urin segar tidak ada urobilin.
Prosedur :
Diambil 5 ml filtrate dari pemerikasaan bilirubin.
Ditambah 5 ml reagen Schlesinger.
Kemudian diaring atau disentrifuge dengan kecepatan sedang.
Diambil filtratnya dan ditetesi lugol 1-2 tetes.
Diperiksa adanya fluriensi


3. UROBILINOGEN
Prosedur :
Diambil 5 ml urin dimasukkan dalam tabung
Ditambah dg 10-12 tetes reagen erlich campur
Baca hasil setelah 5 menit, jika (+) berarti normal
Hasil :
(+) jika terjadi perubahan warna merah
(-) jika tidak terjadi perubahan warna
UROBILIN
Prosedur :
Diambil 3 ml urin dimasukkan dalam tabung
Ditambah dg 3 ml reagen Schlesinger dicampur dan disaring
Diambil filtratnya dan ditetesi dg lugol sebanyak 1-2 tetes
Amati dg latar belakang hitam apakah ada flurensi hijau /tidak
Pembacaan hasil
(+) jika terdapat fluorensi hijau terang
(-) jika tidak terjadi flurensi hijau (normal)


4. ACETON
Prinsip : sodium nitroprusside yang ditambahkan pada urin aka bereksi dengan keton bodies (aceton dan asam aceto acetat) dalam suasana alkalis akan menghasilkan cincin wana ungu
Prosedur :
Diambil 5ml urin masukkan dalam tabung
Dikocok sampai homogeny
Tabung dengan posisi miring dimasukkan NH4OH melalui dinding sebanyak 1-2 tetes
Adanya cincin unggu berrti (+) aceton


5. CALCIUM
Prinsip : calcium dalam urin akan diendapkan oleh reagen sulkowitch dalam bentuk Ca oxalate.
Prosedurr :
3 ml urin dimasukkan dalam masing-masing 2 tabung reaksi dimana tabung ke-2 digunakan sebagai pembanding
Tabung pertama ditambah dg 3 ml reagen sulkowitch campur dan biarkan 2-3 menit
Baca hail setelah 2-3 menit
Hasil
(-) : jika tidak terjadi endapan
(+) : ada keruhan halus
(++) : ada keruhan sedang
(+++) : adakeruhan agak berat yang timbul dalam waktu kurang dari 20 detik


PEMERIKSAAN LCS

Pemeriksaan makroskopis
Warna
Tabung reaksi diisi ¾ LCS
Dibandingkan warnanya dengan aquadest
Kekeruhan
Sama dendan pemeriksaan warna.
Yang dilaporkan : jernih, agak keruh, sangat keruh.
Bekuan
Ditaruh caira otak dalam beker glass
Aduk dg perlahan lahan dg batang pengaduk yang dilaporkan :
Halus sekali
Berkeping2
Berserat2
Berupa serabut
Berupa bekuan besar

1. Tes Pandy
Prinsip kekeruhan: protein dalam LCS bereaksi dengan fenol
Prosedur :
Dimasukkan 1 ml reaagen pandy dalam tabung serologi
Ditambahkan dg 1 tetes LCS
Baca hasil tes
Hasil
(-) : tidak ada keruhan
(+) : ada keruhan
(++) : cairan keruh
(+++) : sangat keruh
(+4) : kekeruhan seperti susu dan terjadi endapan.


2. Tes None
Prinsip : protein dalam LCS membentuk presipitat dg larutan Amonium sulfat yaitu akan terbentuk cincin.
Prosedur :
Masukkan 1 ml reagen none apel kedalam tabung serologi
Ditabahkan 1 ml LCS dg hati-hati melalui dinding tabung, sehingga menyusun dua lapisan
Diamkan 3 menit dan dilihat perbatasan kedua cairan
Adanya cincin keruh (putih) hasil tes dianggap (+)
Hasil (-) jika tidak ada cincin di kedua lapisan tsb.

TRANSUDAT DAN EXUDAT

Pemeriksaan makroskoskopis
Volum
Warna
Kejernihan
Bau
Bekuan

1. Tes Rivalta
Prinsip : adanya seromucin dalam exudat akan bereaksi dengan asam acetat glacial menimbulkan kekeruhan yang dinilai secara kualitatif.
Prosedur :
Masukkan aquades 100 ml kedalam beker glass
Ditambahkan 1 tetes as. Asetat glacial dan campur
Dijatukkan 1 tetes cairan yang diperiksa kedalam campuran dg jarak 1 cm diatas permukaan cairan.
Amati tetesan itu saat bercampur dg cairan yang mengandung as. Acetat.
Hasil
(-) : tidak keruh
(+) : kekeruhan ringan (transudat)
(+2) : seperti kabut tebal (exudat)



PEMERIKSAAN SPERMA

Pemeriksaan makroskopis
Koagulasi (gumpalan)
Warna
Bau
Volume
pH

pemeiksaan jumlah sel sperma
Prosedur :
pipet sperma dg pipet lekosit sampai tanda 1
dilanjutkan menghisap larutan eosin sampai tanda 11 tepat.
Kocok2 kurang lebih 3-4 menit
Diteteskan campuran tadi keatas bilik hitung amati dibawah mikroskop 40x
Nilai normal : 70 juta /mm
Diposkan oleh Moel Tyas di 00:48 2 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz
Rabu, 28 Juli 2010
Pemeriksaan Hematologi
1. pemeriksaan Hb Cyanmet
caranya :
Disiapkan dua tabung (tabung yang ukurannya sedang)
Kedua tabung diisi dengan larutan Drabkin sebanyak 5,0 ml
Tabung yang pertama dimasukkan sampel(darah) sebanyak 20ul, campur sampai homogen
(jangan lupa pipet yang digunakan tadi dibilas ber kali2)
inkubasi selama 5 menit
kemudian dibaca dengan spectrofotometer dengan :
panjang gelombang :540nm
Factor : 36,77
Program : c/f

Cara membuat larutan Drapkin :
Bahan :
Natriumbikarbonat : 1 gr
Kaliumsianida : 50 mg
Kaliumferrisiaida : 200 mg
Aquadest add :1000 ml
Adakalanya ditambah dengan detergen supaya perubahan cianmet lebih sempurna dalam waktu yang singkat. disimpan pada botol coklat yang ditutup rapat.

Nilai normal
Pria :12 g/dl - 17 g/dl
Wanita :11 g/dl - 15 g/dl

2. Cara Sahli
Dimasukkan 5 tetes HCl 0,1N kedalam tabung pengencer hemometer
Kemudian dihisap darah (kapiler, EDTA, atau oxalate) dengan pipet hemoglobin sampai garis batas tanda 20 ul.
Hapus darah yang melekat pada ujung pipet dengan menggunakan tissue
Catat waktunya dan segeralah alirkan darah dari pipet kedalam dasar tabung yang berisi HCl tadi.jangan sampai ada gelembung udara.
Dibilas 2-3 kali kedalam larutan asam tadi.
Campur isi tabung supaya darah dan asam bersenyawa, warna menjadi coklat tua.
Tambahkan air sedikit demi sedikit, tiap kalidi aduk dengan batanga pengaduk yang tersedia. Persamaan warna campuran dan batang standard harus dicapai dalam waktu 3-5 menit setelah pencampuran.
Satuan g/dl

Pemeriksaan Hematokrit
Cara mikro
Caranya :
Isi tabung mikrokapiler dengan darah/sempel
Tutup salah satu uj ung dari mikrokapiler tadi dengan penutup/parfin
Kemudian disentrifuge dengan alat khusus dengan kecepatan tinggi yaitu lebih dari 16.000rpm
Putar selama 3- 5menit
Dibaca dengan menggunakan grafik

Nilai normal :
Pria : 40-48 vol %
Wanita : 37-42 vol%

Cara makro
Darah dimsasukkan dalam tabung wintrobdengan pipt sampai tanda garis 100 yang atas
Masukkan dalam tabung dan beri kapas untuk penyangga agar tetap tegak sehingga dapat mudah untuk melakukan sentrifuge.pusing selama 30 menit dengan kecepatan 3000 rpm
Pemeriksaan LED(laju endap darah)
Caranya :
Dipipet 2ml sampel/darah campur dengan 0,5 ml Natrium Citrat 3,8%
Pipet campuran tadi dengan menggunakan pipet westergen sampai tanda angka 0 mm, dan letakkan posisi pipet itu pada posisi tegak lurus dalam rak westergen selama 1 jam
Baca lapisan plasma dengan millimeter dan dilaporkan sebagai LED
Nilai normal
Pria : kurang dari0-15 mm/jam
Wanita : 0-20 mm/jam





HITUNG SEL DARAH

No PA Reagen Jenis pipet penenceran ∑ kotak
1 Trombosit BCB
(Brillien Cresy Blue) atau Ress Ekcer Eritrosit 200x semua kotak tengah/12,5 atau seluruh kotak besar eritrosit
2 ERitrosit Hayem/gower Eritrosit 200x 5 kotak tengah
3 Leukosit turk Lekosit 20 x 4 kotak pojok besar


Hitung Jumlah Eritrosit :
N x 10.000 (juta/ul) 5 kotak kecil tengah (pengenceran 200x)
1 kotak kecil tengah (pengenceran 200x)N x 50.000 (juta/ul)
Hitung Jumlah Lekosit :
4 kotak besar sudut (pengenceran 20 x)N x 50 (rbu/ul)
1 kotak kecil (pengenceran 20 x)N x 3.200 (ribu/ul)
1 kotak besarN x 200 (ribu/ul)
Hitung Trombosit :
1 kotak besar tengah (pengenceran 200x)N x 2000 (ribu/ul)
1 kotak kecilN x 50.000 (ribu/ul)







HTIUNG JENIS SEL

JENIS SEL I II III IV V VI VII VIII XI X JML
BASOFIL
0-1%
EOSIN
1-3%
NETROFIL (BATANG)
2-6%
NEROFIL (SEGMEN)
50-80%
LIMPOSIT
20-40%
MONOSIT
2-8%
JML 100

TES KELAINAN HEMORAGIK
MASA PENDARAHAN
Cara IVY
Dibersikan daerah lengan yang akan ditusuk, biasanya bagian voler lengan yaitu dengan alcohol 70% dan biarkan sampai kering.
Kenakan ikatan sfigmomanometer pada lengan atas pompa sampai tekanan 40 Hg. Selama percobaan berlangsung tekanan harus tetap.
Dan tusuk kulit lengan bawah dengan lancet pada daerah kira2 3 jari dibawah siku sampai 3mm dalamnya.
Jika darah mulai keluar jalankan stopwatch.
Dihisap tetes darah yang keluar itu tiap 30 detik dengan kertas saring, jangan menekan kulit pada wakjtu menghisap darah.
Hentikan stopwatch pada waktu darah tidak dapat dihisap lagi dan catat waktu itu.

Catatan
Masa Pendarahan Normal antara 1-6 menit.
Tusukan harus cukup dalam sehingga salah satu bercak darah pada kertas saring menjadi berdiameter 5 mm atau lebih. Bila kurang percobaan batal dan harus diulang.

Cara Duke
Bersihkan anak daun telinga dengan kapas alcohol 70% dan dibiarkan kering.
Tusuk pinggir anak daun telinga tadi dengan lancet sedalam 2 mm.
Dan dilanjutkan pada percobaan Ivy tadi.


LangganPereksi reagen benedict: larutkan 34,6 gr Na-sitrat + 20 gr Na-karbonat dalam 180 ml air aduk dan saring. Kemudin tambahkan larutan 3,46 gr CuSO4 dalam 20 ml air. Genapkan menjadi 200 ml.

Media dan Reagensia adalah suatu bidang studi yang dalam pembelajarannya membahas tentang persyaratan-persyaratan dan bagaimana cara menguji suatu bahan. Namaun, untuk semester satu ini kita hanya akan mempelajari tenteng Reagensia. Adapun pengertian dari reagensia itu sendiri adalah suatu zat atau senyawa atau larutan dalam konsentrasi tertentu yang digunakan untuk mengetahui penjelasan dari suatu analisa. Misalnya : benedict, Kapur, Natrium Hidroksida (NaOH) Asam Sulfat (H2SO4), dll.

Berdasarkan jenisnya, reagensia itu sendiri terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
1.Reagensia Kualitatif
Reagen dalam pembuatannya tidak memerlukan ketelitian yang tinggi, pengukuran volume dan beratnya tidak harus menggunakan neraca analitik, tidak menunutut digunakan bahan kimia yang murni ataupun menggunakan alat-alat gelas tertentu. Misalnya : Amylum, Asam Sulfat (H2SO4), dll.

2.Reagensia Kuntitatif
Reagen yang dalam pembuatanya memrlukan ketelitian yang tinggi, penimbanagnnya harus menggunakan neraca analitik dan pengukurannya harus dengan alat ukur kuantitatif. Misalnya : Natrium Hidroksida (NaOH), Asam Oksalat (H2C2O4), K2Cr2O7, dll.

Dalam pembelajaran Media dan Reagensia, seorang calon analis harus mampu dalam mengenali bentuk-bentuk bahan kimia, jenis-jenis bahan kimia, kulitas bahan kimia, ataupun macam-macam logo dalam bahan kimia itu sendiri, sehingga dilapangannya nanti bias bekerja dengan baik dan benar. Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut :
A.Bentuk-bentuk bahan kimia, yaitu :
1.Padat seperti butiran, granula, serbuk halus atau kasar, kristal, dan kepingan.
2.Cair, kenyataannya bahwa bahan kimia cair itu mempunyai kadar atau kerapatan massa.
3.Gas

B.Jenis-jenis bahan kimia, yaitu :
1.Asam
Berdasarkan Teori Arhenius, Asam dalah suatu senyawa yang dapat menghasilkan ion hydrogen (H¬¬) atau ion hidronium (H2O) bila dilarutkan dalam air.
Berdasarkan Teori Bronsted Lowry, Asam adalah senyawa yang molekul-molekulnya mampu menyerahkan proton (donor proton).

2.Basa
Berdasarkan Teori Arhenius, basa adalah suatu senyawa yang dapat menghasilkan ion hidroksida (OH) bila dilarutkan.
Berdasarkan Teori Bronsted Lowry, Basa adalah senyawa yang molekul-molekulnya mampu menerima proton atau akseptor proton.

3.Garam
Senyawa yang terbentuk dan reaksi kimia anatara basa dan asam yang memenuhi hukum-hukum kimia.

C.Kualitas bahan kimia, yaitu :
1.Teknis
Ciri-cirinya :
Harga relative murah
Tigkat kemurniannya rendah
Digunakan dalam dunia industri (non analisa)
2.Pro Analisa (PA)
Ciri-cirinya :
Harga yang lebih mahal
Tingkat kemurniannya tinggi
Digunakan dalam Laboratorium Analisa

D.Macam-macam logo dalam bahan kimia, yaitu :
1.Iritasi atau Irritant
2.Beracun atau Toxic
3.Mudah Meledak atau Oxidizing
4.Kerusakan Lingkungan
5.Kebakaran atau Flammable
6.Korosif atau Corrosive For Human
7.Radiasi

Selain itu, seorang analis juga harus mengetahui dan memahami tentang larutan karena ini akan sangat berkaitan dalam pembutan reagen. Pengertian larutan itu sendiri adalah :
1.Sistem homogen yang komposisinya variasi
2.Campuran homogen antara zat (padat atau cair) dengan suatu pelarut
3.Campuran homogen antara solute dan solven, dimana solut itu zat (padat atau cair) yang terlarut dan solven itu pelarutnya.

Sehingga konsentrasi larutan adalah jumlah zat terlarut (solute) dan pelarutnya (solven). Adapun satuan konsentrasi larutan adalah sebagai berikut :
1.Molaritas (M)
Molaritas adalah banayk mol solute dalam satu liter solven atau nayak milimol solute dala satu milliliter solven.
Rumusnya :

M = W x 1000 Keterangan :
Mr V M : Molaritas

W : Massa (gr)
Mr : Massa Molekul Relatif
V : Volume (ml)

2.Molalitas (m)
Molalitas adalah jumlah mol solute dalam tiap 1000 gram solven.
Rumusnya :

m = W x 1000 Keterangan : M : Molaritas
Mr P W : Massa (gr)
Mr : Massa Molekul Relatif
P : Massa pelarut (gr)

3.Normalitas (N)
Normalitas adalah banyak grek solute dalam satu liter solven.
Rumusnya :

N = % x BJ x V Keterangan : N : Normalitas
BE BJ : Berat Jenis
BE : Berat Ekuivalen
V : Volume
% : Konsentrasi

4.Persen (%)
a.% berat (% W)
Rumusnya :

%W = W1 x 100% Keterangan :
W1 + W2 W1 : Gram zat terlarut
W2 : Gram pelarut

b.% volume (% V)
Rumusnya :

%V = V1 x 100% Keterangan :
V1 + V2 V1 : Volume zat terlarut
V2 : Volume pelarut

c.% berat/volume (% W/V)
Rumusnya :

%W/V = W x 100% Keterangan :
V W : Gram zat terlarut
V : ml larutan

d.% volume/berat (%V/W)
Rumusnya :

%V/W = V x 100% Keterangan :
W V : ml larutan
W : Gram zat terlarut

5.PPM (Part Per Million)
PPM terbagi dalam dua jenis yaitu :
a.PPM padat dalam padat (mg/kg)
b.PPM padat dalam cair (mg/L)
Rumusnya :

PPM = Ar x Penimbangan (mg) x 1000
Mr V

Keterangan : Ar : Atom relatif
Mr : Massa relatif
V : Volume

6.Larutan Jenuh dan Tak Jenuh
a.Larutan Jenuh adalah larutan yang masih dapat melarutkan solute.
b.Larutan Tak Jenuh adalah larutan yang tidak dapat lagi melarutkan solute.

Jenis reagensia kuantitatif yang dipergunakan untuk analisa kadar suatu alat pada metode volumetric (titrimetri) disebut larutan baku. Larutan baku adalah larutan dimana konsentrasinya diketahui dengan tepat sehingga dapat digunakan untuk menetapkan konsentrasi larutan lain atau analat yang belum diketahui. Berdasarkan jenisnya, larutan baku itu sendiri terbagi menjadi dalam dua kelompok yaitu:
1.Larutan Baku Primer
Merupakan suatu larutan yang buat secara teliti dengan melarutkan sejumlah tertentu baku primer dalam volume tertentu yang konsentrasinya dapat langsung diketahui.Misalnya : Natrium morida, Natrium karbonat, Natrium tetra borat, Kalium biftalat, Asam oxalate, Kalim klorida, Kalium bikromat, Kalium iodate, dll.

Syarat-syarat dari larutan baku primer adalah :
Stabil bila disimpan, mudah dimurnikan
Tingkat kemurniannya tinggi
Hendaknya memiliki bobot ekuivalen yang besar

2.Larutan Baku Sekunder
Merupakan suatu larutan yang dibuat secara teliti baik secara penimbangan maupun pelarutannya dan harusdilakukan standarisasi karena bahannya tidak stabil. Misalnya : Natrium hidroksida, Asam sulfat, Kalium hidroksida, Perak Nitrat, Kalium rhodanida, Natrium thiosulfat, Iodium, Kalium permanganate, EDTA, dll.

Terakhir seorang analis juga perlu mengetahui peralatan, proses, dan keselamatan kerja di laboratorium dan ini merupakan dasar pengetahuan seseorang yang yang bekerja di laboratorium. Maka :

Hal yang pertama yang perlu dilakukan di laboratorium, yaitu :
1.Gunakan peralatan kerja seperti kacamata pengaman untuk melindungi mata, jas laboratorium untuk melindungi pakaian dan sepatu tertutup melindungi kaki.
2.Dilarang memakai perhiasan yang dapar rusak karena bhan kima.
3.Dilarang memakai sandal atau sepatu terbuka atau sepatu yang berhak tinggi.
4.Wanita atau pria yang berambut panjang harus diikat.

Bekerja aman dengan bahan kimia, yaitu :
1.Hindari kontak langsung dengan bahan kima
2.Hindari menghisap langsung uap bahan kima
3.Dilarang mencicipi atau mencium bahan kimia kecuali ada perintah khusus
4.Bahan kimia dapat bereksi langsung dengan kulit yang dapat menimbulkan iritasi

Cara memindahkan bahan kimia, yaitu :
1.Baca label bahan kimia sekurang-kurangnya 2 kali untuk menghindari kesalahan
2.Pindahkan sesuai dengan jumlah yang diperlukan
3.Jangan menggunakan bahan kimia secara berlebihan
4.Janagn mengembalikan bahan kimia ke dalam wadah yang asli setelah digunakan

Cara memindahkan bahan kimia cair, yaitu :
1.Tutup botol dibuka dan dipegang dengan jari tangan sekaligus telapak tanagn memegang botol tersebut
2.Tutup botol jagang diletakkan di atas meja karena isi botol dapat terkotori
3.Pindahkan cairan melalui batang pengduk untuk mengalirkan agr tidak memercik

Cara memindahkan bahan kima padat, yaitu :
1.Gunakan tutup botol untuk mengatur pengeluaran bahan kimia
2.Janagn mengeluarkan bahan kimia secara berlebihan
3.Pindahkan sesuai keperluan tanpa menggunakan sesuatu yang dapat mengotori bahan tersebut

Cara memanaskan larutan menggunakan gelas kimia, yaitu :
1.Gunakan kaki tiga dan kawat kasa untuk menopang gelas kimia tersebut
2.Letakkan batang gelas di atas kawat kasa
Cara memanaskan larutan menggunakan tabung reaksi, yaitu :
1.Isi suatu zat atau senyawa dalam tabung reaksi minimal sepertiganya
2.Mamanaskannya diarahkan ke tempat yang tidak ada orang
3.Menggunakan penjepit tabung untuk memanaskan

Pemeriksaan label bahan kimia, yaitu :
Pemeriksaan sangat penting untuk menghindari kesalahan dalam mencampur zat. Banyak zat yang memiliki label yang mirip satu sama lainnya, namun berbeda dalam beberapa bagian seperti, komposisi, wadah, dll.

REAGEN-REAGEN DALAM LABORATORIUM KIMIA AMAMI

Praktek Pembuatan Reagen

1.HCl 2% dari HCl 37% dalam 100 ml
Perhitungan : V1 x C1 = V2 x C2
100 x 2% = V2 X 37%
V2 = 5,4 ml
Cara membuat :
Masukkan HCl sebanyak 5,4 ml ke dalam beaker yang telah berisi aquadest ± 25 ml
Add kan aquadest sampai 100 ml, lalu aduk sampai homogen
Masukkan ke dalam botol reagen, dan beri etiket.

2.NaOH 0,1 N dalam 500 ml
Perhitungan : gr = N x V x BE
= 0,1 x 0,5 x 40
= 2 gram
Cara membuat :
Timbang NaOH sebanyak 2 gram lalu masukkan ke dalam beaker glass
Tambahkan aquadest sebanyak 500 ml, aduk hingga homogen
Masukkan ke dalam botol reagen, dan beri etiket.

3.KMnO4 0,1 N dalam 500 ml
Perhitungan : gr = N x V x BE
= 0,1 x 0,5 x 158
= 7,9 gram
Cara membuat :
Timbang KMnO4 sebanyak 7,9 gram lalu masukkan ke dalam labu ukur
Tambahkan aquadest hingga 500 ml dengan menggunakan corong glass
Larutkan hingga homogen
Masukkan ke dalam botol reagen sambil disaring menggunakan kertas saring, dan beri etiket.

4.Buffer Ph 4
Komposisi : Na sitrat (CH3COONa) : 40 gr
Asam sitrat (CH3COOH) : 26 gr
Aquadest : 400 ml
Cara membuat :
Timbang asam sitrat dan Na sitrat sebanyak 26 gram dan 40 gram
Masukkan ke dalam beaker glass
Tambahkan aquadest sampai 400 ml, lalu aduk hingga homogen
Masukkan ke dalam botol reagen, dan beri etiket.

5.Luff Schrool, berfungsi untuk analisa kadar gula reduksi
Komposisi : CuSO4 : 25 gr
Na2CO3 : 125 gr
CH3COOH : 50 gr
Aquadest : 1000 ml
Cara membuat :
Bagi semua bahan menjadi 2, larutan A dan larutan B
Masukkan CH3COOH ke dalam beaker glass yang berisi aquadest sebanyak 50 ml secara perlahan-lahan
Larutan A : masukkan CuSO4 sebanyak 25 gram ke dalam beaker glass, lalu tambahkan aquadest sebanyak 25 ml
Larutan B : panaskan aquadest 400 ml, setelah panas masukkan Na2CO3 sebanyak 125 gram ke dalam beaker glass, lalu aduk hingga homogen
Campurkan larutan CH3COOH dan larutan CuSO4 ke dalam larutan Na2CO3 secara perlahan-lahan sambil diaduk hingga homogen
Pindahkan larutan ke dalam labu ukur dengan menggunakan corong glass, lalu add kan sampai 1000 ml.
6.Indikator PP (Phenol Ptialin) 1%
Komposisi : PP : 1 gr
Alcohol 96% : 60 ml
Aquadest
Cara membuat :
Timbang PP sebanyak 1 gram lalu masukkan ke dalam beaker glass
Tambahkan alcohol 96% sebanyak 60 ml, aduk hingga homogen
tambahkan aquadest hingga larutan menjadi 100 ml, lalu homogenkan
masukkan ke dalam botol reagen, dan beri etiket.

7.Indikator Amylum 1%
Cara membuat :
Timbang amylum sebanyak 1 gram lalu masukkan ke dalam beaker glass
Tambahkan aquadest ke dalam beaker glass sebanyak 100 ml, dan homogenkan
Panaskan larutan amylum dengan spritus hingga bening, dinginkan
Masukkan ke dalam botol reagen, dan beri etiket.




BAB II
PEMBAHASAN

B. PEMBUATAN REAGENSIA YANG DIGUNAKAN DI LABORATORIUM PARASITOLOGI

1. PEMBUATAN REAGEN FORMALIN 10-20 %
Fungsinya : Untuk pengawetan telur cacing.
Komposisi :
Formalin 37%
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
Dik: C1 : 10%
V1 : 100 ml
C2 : 37%
Dit : V2 :……?
Jwb :
C1 x V1 = C2 x V2
10% x 100 ml = 37% x V2
37 V2 = 1000
V2= 27,02 ml
Cara Pembuatan :
Ambil sebanyak 27,02 ml formalin 37% yang belum diencerkan, kemudian masukkan ke dalam beaker glass.
Di add kan aquadest sampai 100 ml ke dalam beaker glass yang berisi formalin tadi. Lalu homogenkan dengan menggunakan batang pengaduk.
Setelah homogen, masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

2. PEMBUATAN REAGEN LUGOL
Fungsinya : Untuk pemeriksaan bentuk kista protozoa.
Komposisi :
Iodium 1 gram
Kalium Iodium 2 gram
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Iodium sebanyak 1 gram dan Kalium Iodium 2 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam lumpang, lalu digerus.
Kemudian tambahkan sedikit demi sedikit aquadest sambil diaduk.
Lalu larutan tadi dipindahakan ke dalam beaker glass, add kan dengan aquadest 100 ml kemudian disaring setelah 24 jam.

3. PEMBUATAN REAGEN NaCl
Fungsinya : Untuk pemeriksaan bentuk kista dan vegetatif protozoa.
Komposisi :
NaCl 0,9 gram
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
NaCl 0,9% = 0,9 x 100: 100
= 0,9 gram
Cara Pembuatan :
Timbang NaCl 0,9 gram dengan menggunakan nerca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.


4. PEMBUATAN REAGEN EOSIN 2 %
Fungsinya : Untuk pemeriksaan bentuk kista dan vegetatif protozoa
Komposisi :
Eosin 2 gram
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
Eosin 2% = 2 x 100
100
= 2 gram
Cara Pembuatan :
Timbang Eosin 2 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

5. PEMBUATAN REAGEN ALKOHOL 70 %
Fungsinya : Agar pada pembuatan sediaan semi permanen tidak terbentuk gelembung diantara miselium-miselium jamur.
Komposisi :
Alkohol 73 ml
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
Dik: C1 : 70%
V1 : 100 ml
C2 : 96%
Dit : V2 :……?
Jwb :
C1 x V1 = C2 x V2
70% x 100 ml = 96% x V2
96 V2 = 1000
V2 = 72,9 ml
V2 = 73 ml
Cara Pembuatan :
Pipet Alkohol 96% sebanyak 73 ml.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.
C. PEMBUATAN REAGENSIA YANG DIGUNAKAN DI LABORATORIUM MIKOLOGI

1. PEMBUATAN REAGEN KOH 10-20 %
Fungsinya : Untuk melisiskan atau melarutkan sel-sel epitel jamur mudah dilihat.
Komposisi :
Kristal KOH 10-20 gram
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Kristal KOH 10-20 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

2. PEMBUATN REAGEN LACTO PHENOL COTTON BLUE
Fungsinya :-Untuk pewarnaan pembuatan preparat jamur
-Untuk membunuh jamur
Komposisi :
Kristal Phenol 20 gram
Asam Laktat 20 ml
Gliserol 40 ml
Aquadest 20 ml
Cara Pembuatan :
Semua bahan dicampur di dalam labu erlenmeyer diatas uap air panas didalam penangas sampai larut sempurna. Akan terbentuk larutan Lakto Phenol yang berwarna jernih atau kuning jernih
Bila akan membuat LPCB maka larutan Lacto Phenol ditambahkan bubuk Cotton Blue didalamnya atau tinta warna biru secukupnya.

3. PEMBUATAN MEDIA SABARAUD DEKSTROSA AGAR
Fungsinya : - Untuk membiakkan jamur
Komposisi :
Dekstrosa / Glukosa 40 gram
Pepton 10 gram
Agar 20 gram
Aquadest 1000 ml
Cara Pembuatan :
Semua bahan dimasukkan ke dalam labu erlenmayer dan dilarutkan diatas api sampai larut sempurna.
Media dapat langsung disterilisasi di dalam autoclave selam 30 menit dengan tekanan 1 atm.
Untuk membuat agar miring, larutan media dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 10-15 ml baru disterilisasi dan didinginkan dengan cara ditidurkan dengan posisi bagian mulut tabung lebih tinggi. Media dibiarkan dingin dan membeku. Media disimpan didalam suhu 4’ C.

D. PEMBUATAN REAGENSIA UNTUK PEMERIKSAAN URINE RUTIN ( KIMIA KLINIK )
1. PEMBUATAN REAGEN ASAM SULFOSALISIL 20%
Fungsinya : Untuk pemeriksaan protein urine.
Komposisi :
Asam Sulfosalisil 20 gram
H2O 100 ml
Perhitungan :
Asam Sulfosalisil 20 % = 20 x 100
100
= 20 gram
Cara Pembuatan :
Timbang Asam Sulfosalisil 20 gram dengan menggunakan nerca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan H2O sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

2. PEMBUATAN REAGEN BANG
Fungsinya : Untuk pemeriksaan protein urine.
Komposisi :
Asam Cuka Glasial 56,5gram
Natrium Sitrat 118 gram
Aquadest 100 ml

3. PEMBUATAN REAGEN BENEDICT
a. Reagen Benedict Kualitatif
Fungsinya : Untuk pemeriksaan reduksi urine.
Komposisi :
CuSO4.5H2O 17,3 gram
Natrium Sitrat 173 gram
Natrium Karbonat 100 gram
Aquadest 1000 ml
Cara Pembuatan :
Timbang semua bahan dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan semua bahan ke dalam beaker glass
Lalu homogenkan dengan batang pengaduk
Masukkan ke dalam waterbath yang sudah dipanaskan
Aduk hingga larutan tersebut panas
Dinginkan dan masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

b. Reagen Benedict Kuantitatif
Fungsinya : Untuk pemeriksaan reduksi urine.
Komposisi :
CuSO4.5H2O 18 gram
Natrium Sitrat 200 gram
Natrium Karbonat 100 gram
K(CN)5 125 gram
K4Fe(CN)6 5% 5 ml
Aquadest 1000 ml
Cara Pembuatan :
Timbang semua bahan dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass
Tambahkan larutan K4Fe(CN)6 5% sebanyak 5 ml dan masukkan ke dalam beaker glass tadi
Homogenkan larutan tersebut, kemudian panaskan larutan tersebut pada waterbath
Dinginkan, lalu masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.


4. PEMBUATAN REAGEN FEHLING A
Fungsinya : Untuk pemeriksaan reduksi urine.
Komposisi :
CuSO4. 5H2O 35 gram
Aquadest 1000 ml
Cara Pembuatan :
Timbang CuSO4.5H2O sebanyak 35 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 1000 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

5. PEMBUATAN REAGEN FEHLING B
Fungsinya : Untuk pemeriksaan reduksi urine.
Komposisi :
Kalium Natrium Tartrat 173 gram
NaOH 60 gram
Aquadest 1000 ml
Cara Pembuatan :
Timbang kalium Natrium Tartrat sebanyak 173 gram dan NaOH sebanyak 60 gram dengan menggunakan nerca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 1000 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

6. PEMBUATAN REAGEN ESBACH
Fungsinya : Untuk pemeriksaan kadar protein.
Komposisi :
Asam Pikrat 2,5 gram
Asam Sitrat 5 gram
Aquadest 250 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Asam Pikrat sebanyak 2,5 gram dan Asam Sitrat sebanyak 5 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 250 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

7. PEMBUATAN REAGEN CAUSSE BONNANS
a. Causse Bonnans I
Fungsinya : Untuk pemeriksaan kadar glukose urine.
Komposisi :
CuSO4.5 H2O 35 gram
H2SO4 pekat 5 ml
Aquadest 1000 ml

b. Causse Bonnans II
Fungsinya : Untuk pemeriksaan kadar glukose urine.
Komposisi :
Kalium Ferro Tartrat 150 gram
NaOH 90 gram
Aquadest 1000 ml

c. Causse Bonnans III
Fungsinya : Untuk pemeriksaan kadar glukose urine.
Komposisi :
Kalium Ferro Sianida 50 gram
Aquadest 1000 ml




8. PEMBUATAN REAGEN STANDART GLUKOSA 0,5 %
Fungsinya : Untuk pemeriksaan glukose urine
Komposisi :
Glukose 50 gram
Aquadest 1000 ml
Perhitungan :
Glukosa 0,5 % = 0,5 x 1000
100
= 50 gram
Cara Pembuatan :
Timbang Glukosa 50 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 1000 ml secara perlahan-lahan dan hati-hati, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.
9. PEMBUATEN REAGEN SCHLESINGER
Fungsinya : Untuk pemeriksaan urobilin urine.
Komposisi :
Zinc Acetat 10 gram
Alkohol 96 % 100 ml
Perhitungan :
Berat gelas arloji = 32,22 gram
Berat zinc acetat = 10 gram
Total = 42,22 gram
Cara Pembuatan :
Timbang Zinc Acetat 10 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan alkohol sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.
10. PEMBUATAN REAGEN ERLICH
Fungsinya : Untuk pemeriksaan urobilin urine.
Komposisi :
Paradimetil amino benzildehida 2 gram
HCl 38 % 50 ml
Aquadest 1000 ml
Cara Pembuatan :
Timbang paradimetil amino benzildehida 2 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Pipet HCl 38 %sebanyak 50 ml, masukkan ke dalam beaker glass tadi.
Add kan dengan aquadest sampai 1000 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

11. PEMBUATAN REAGEN FOUCHEI

a. BaCl 10 %
Fungsinya : Untuk pemeriksaan bilirubin urine.

Komposisi :
BaCl2 10 gram
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
BaCl2 10% = 10 x 100
100
= 10 gram
Cara Pembuatan :
Timbang BaCl2 10 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

b. Reagen Foucei
Fungsinya : Untuk pemeriksaan bilirubin urine.
Komposisi :
Asam Trichloro Acetat 25 gram
FeCl3 10 % 10 ml
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Pipet FeCl3 10 % sebanyak 10 ml ke dalam beaker glass lalu tambahkan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Timbang asam trichloro acetat sebanyak 25 gram, lalu masukkan ke dalam larutan FeCl3 10 % tadi, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

12. PEMBUATAN REAGEN ROTHERA

a. Reagen Natrium Nitrofusid 5%
Fungsinya : Untuk pemeriksaan aseton urine.
Komposisi :
Natrium Nitrofusid 5% 5 gram
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
Natrium Nitrofusid 5% = 5 x 100
100
= 5 gram
Cara Pembuatan :
Timbang Natrium Nitrofusid 5 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

b. Reagen Amoniak 10%
Fungsinya : Untuk pemeriksaan zat aseton urine.
Komposisi :
Amoniak 80 ml
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
Dik: C1 : 25%
V2 : 200 ml
C2 : 10%
Dit : V2 :……?
Jwb :
C1 x V1 = C2 x V2
25% x V1 = 10% x 200 ml
25 V2 = 2000
V2 = 80 ml
Cara Pembuatan :
Pipet Amoniak 25% sebanyak 80 ml.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 200 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

c. Reagen Larutan Jenuh Amonium Sulfat
Fungsinya : Untuk pemeriksaan aseton urine.
Komposisi :
Amonium Sulfat berlebih
Aquadest 100 ml


Cara Pembuatan :
Masukkan aquadest sebanyak 100 ml ke dalam beaker glass.
Masukkan amonium sulfat menggunakan sendok stainless ke dalam beaker glass, lalu homogenkan.
Tambahkan terus amonium sulfat hingga larutan menjadi jenuh sambil diaduk rata.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

13. PEMBUATAN REAGEN ASAM ACETAT
Fungsinya : Untuk pemeriksaan kadar protein dalam urine.
Komposisi :
Asam Acetat 15 ml
Aquadest 250 ml
Perhitungan :
Dik: C1 : 6%
V1 : 100 ml
C2 : 100%
Dit : V2 :……?
Jwb :
C1 x V1 = C2 x V2
6% x 250 ml = 100% x V2
1500 = 100 V2
100 V2 = 1500 ml
V2 = 15 ml
Cara Pembuatan :
Ambil asam acetat sebanyak 15 ml, masukkan ke dalam beaker glass kemudian pindahkan ke dalam gelas ukur.
Masukkan sedikit demi sedikit ke dalam labu ukur kemudian masukkan asam acetat tadi ke dalam labu ukur melalui corong gelas.
Add kan dengan aquadest sampai 250 ml, lalu kocok perlahan hingga homogen.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

14. PEMBUATAN REAGEN SULCOWICH
Fungsinya : Untuk pemeriksaan kalsium urine.
Komposisi :
Asam Laktat 2,5 gram
Amonium Oxalat 2,5 gram
Asam Acetat Glasial 5 ml
Aquadest 150 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Asam Laktat 2,5 gram dan Amonium Oxalat 2,5 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Ambil asam acetat glasial 5 ml masukkan ke dalam beaker glass lalu pindahkan ke gelas ukur sampai 5 ml
Masukkan ke dalam beaker glass asam oxalat dan amonium oxalat dan juga asam acetat glasial, kemudian aduk dengan batang pengaduk.
Add kan dengan aquadest sampai 150 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

15. PEMBUATAN REAGEN LUGOL
Fungsinya : Untuk pemeriksaan urobilin urine.
Komposisi :
Iodium 1 gram
Kalium Iodium 2 gram
Aquadest 300 ml
Cara Pembuatan :
Timbang iodium sebanyak 1 gram dan kalium iodium sebanyak 2 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 300ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

E. PEMBUATAN REAGEN YANG DIGUNAKAN DI LABORATORIUM HEMATOLOGI

1. PEMBUATAN ATAU PEMILIHAN KAPAS
Fungsinya : Untuk mengambil atau mengoleskan alkohol
Komposisi :
Kapas
Cara Pembuatan :
Siapkan kapas putih yang bersih, lalu ambil 1 kpas tersebut secukupnya atau berukuran sedang
Kapas tersebut dilebarkan dan diratakan atau dipipihkan
Lalu kapas Tadi dilipat ke dalam dan dibagi sama besar menjadi 3 bagian
Kemudian tekan ujung kapas lalu digulung sambil terus menerus menekan kapas tersebut dengan jempol agar menjadi padat. Setelah digulung, rapikan kembali agar tampak rapi dan enak dilihat. Ukurannya harus sedang tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil.

2. PEMBUATAN REAGEN ALKOHOL 70 %
Fungsinya : Sebagai disenfektan pada saat pengambilan darah
Komposisi :
Alkohol 96 % 73 ml
Aquadest add 100 ml
Perhitungan :
Dik : V1 : 100 ml
C1 : 70 %
C2 : 96 %
Dit : V2 : …..?
Peny :
V1. C1 = V2. C2
100. 70 % = V2. 96 %
7000 = 96 . V2

V2 = 7000:96
V2 = 72,91 ml
V2 = 73 ml
Cara Pembuatan :
Pipet Alkohol 96% sebanyak 73 ml.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

3. PEMBUATAN REAGEN NaCl 0,85-0,9 %
Fungsinya : - Untuk pemeriksaan daya tahan osmotik
- Sebagai anti koagulan
Komposisi :
NaCl 0,9 gram
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
NaCl 0,9% = 0,9 x 100
100
= 0,9 gram
Cara pembuatan :
Timbang NaCl 0,9 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

4. PEMBUATAN REAGEN NATRIUM SITRAT 3,8 %
Fungsinya : Untuk pemeriksaan LED, BSE.
Komposisi :
Natrium Sitrat 3,8 gram
Aquadest add 100 ml

Perhitungan :
Natrium Sitrat 3,8% = 3,8 x 100
100
= 3,8 gram
Cara Pembuatan :
Timbang Natrium sitrat 3,8 gram dengan menggunakan neraca elektrik dan gelas arloji.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

5. PEMBUATAN REAGEN HCl 0,1 N
Fungsinya : Untuk pemeriksaan Hb
Komposisi :
HCl 8,36 ml
Aquadest 100 ml
Perhitungan :
Dik : HCl = 37%
H = 1
Cl = 35,5
BJ = 1,18
BE = BM =36,5
Dit : X = …..?
Peny :
X. BJ. % = L. N
BE. V

X = BE.V. L. N
BJ. %

X = 36,5 . 1
43,66
X = 8,36 ml
Cara Pembuatan :
Pipet HCl 37% sebanyak 8,36 ml sebanyak 80 ml.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.

5. PEMBUATAN REAGEN CuSO4
Fungsinya : Untuk pemeriksaan Hb
Komposisi :
CuSO4 BJ 1053
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang CuSO4 sebanyak 7,95 gram
Larutkan ke dalam 50 ml aquadest didalam labu ukur ( untuk BJ=1100)
Untuk membuat larutan menjadi BJ = 1053 maka larutan taedi diambil sebanyak 26 ml.
Masukkan ke dalam labu ukur dan dilarutkan aquadest hingga 50 ml dan homogenkan.
Masukkan kedalam botol reagen dan beri etiket.


6. PEMBUATAN REAGEN TURK
Fungsinya : Untuk pemeriksaan sel darah putih ( leukosit)
Komposisi :
Gentian Violet (serbuk) 1 % 1 ml : untuk memberi warna pada inti leukosit
Asam Acetat Glasial 2 % 1 ml : untuk melisiskan sel selain leukosit.
Aquadest add 100 ml
Cara Pembuatan :
Pipet gentian violet 1 % sebanyak 1 ml dan asam acetat glasial 2 % sebanyak 1 ml
Masukkan ke dalam beaker glass
Add kan aquaddest sampai 100 ml, homogenkan
Masukkan kedalam botol reagen dan beri etiket
7. PEMBUATAN REAGEN HAYEM
Fungsinya : Untuk menghitung jumlah eritrosit
Komposisi :
Na2SO4 2,5 gram
NaCl 0,5 gram
HgCl2 (Merkuri klorida) 0,25 gram
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Na2SO4 sebanyak2,5 gram, NaCl sebanyak 0,5 gram, dan HgCl2 sebanyak 0,25 gram.
Masukkan semua bahan ke dalam beaker glass
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket





8. PEMBUATAN REAGEN GOWERS
Fungsinya : Untuk menghitung jumlah eritrosit
Komposisi :
Na2SO4 0,25 gram
CH3COOH 16,65 ml
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Na2SO4 sebanyak 0,25 gram
Masukkan semua bahan ke dalam beaker glass
Masukkan sedikit aquadest, homogenkan
Pipet CH3COOH sebanyak 16,65 ml kemudian masukkan ke dalam beaker glass yang berisi Na2SO4 tadi.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

9. PEMBUATAN REAGEN BCB ( BRILLIANT CRESSYI BLUE )
Fungsinya : Untuk memeriksa hitung jumlah retikulosit
Komposisi :
BCB 1 gram
Natrium Sitrat 0,6 gram
Natrium Klorida 0,72 gram
Aquadest add 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang BCB sebanyak 1 gram, natrium sitrat sebanyak 0,6 gram, dan natrium klorida sebanyak 0,72 gram.
Masukkan semua bahan ke dalam beaker glass
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket



10. PEMBUATAN REAGEN REES AND ECKER
Fungsinya : Untuk menghitung jumlah trombosit
Komposisi :
Natrium Sitrat 3,8 gram
Formaldehid 40% 2 ml
BCB 30 mg
Aquadest 100 ml
Cara Pembuatan :
Timbang Natrium Sitrat sebanyak 3,8 gram dan BCB sebanyak 30 mg
Masukkan semua bahan ke dalam beaker glass
Masukkan sedikit aquadest, homogenkan
Pipet formaldehid 40 % sebanyak 2 ml kemudian masukkan ke dalam beaker glass yang berisi Natrium sitrat tadi.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

11. PEMBUATAN REAGEN AMONIUM OXALAT 1%
Fungsinya : Untuk menghitung jumlah trombosit
Komposisi :
Amonium Oxalat 1 gram
Aquadest add 100 ml


Perhitungan :
Amonium Oxalat 1% = 1 x 100
100
= 1 gram
Cara Pembuatan :
Timbang amonium oxalat sebanyak 1 gram.
Masukkan semua bahan ke dalam beaker glass
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket

12. PEMBUATAN REAGEN VON DUNGERS ( REAGEN EOSIN )
Fungsinya : Untuk menghitung jumlah eosinofil
Komposisi :
Eosin 2 % 5 ml
Aseton 5 ml
Aquadest add 100 ml
Cara Pembuatan :
Pipet eosin 2 % sebanyak 80 ml dan aseton sebanyak 5 ml.
Masukkan ke dalam beaker glass.
Add kan dengan aquadest sampai 100 ml, homogenkan.
Masukkan ke dalam botol reagen dan beri etiket.



Pendahuluan
Cestoda adalah salah satu klass dari phyllum Plathyehelminthes, yang merupakan salah satu kelompok parasit pada ikan dan juga pada manusia. Parasit ini menyebabkan kerugian secara ekonomi terutama pada penurunan kualitas hasil perikanan, dan dapat merugikan kesehatan manusia. Studi tentang parasit cestoda pada ikan yang berhubungan dengan siklus hidupnya dan kesehatan manusia telah banyak dilakukan di negara maju yang berada di daerah sub tropis.
Taenia saginata atau cacing pita sapi baru dapat teridentifikasi secara jelas setelah pada tahun 1782 berkat Goeze dan Leuckart. Pada saat itu diketahui adanya hubungan antara infeksi cacing Taenia saginata dengan larva sistisercus bovis yang ditemukan pada daging babi dan daging sapi. Hospes definitive dari cacing pita Taenia saginata adalah manusia, sedangkan hewan memamah biak dari keluarga Bovidae, seperti sapi dan kerbau adalah hospes perantaranya . Nama penyakitnya disebut taeniasis Taenia saginata . Taenia saginata bersifat kosmopolit. Paling banyak terdapat di daerah Afrika, Timur Tengah, Eropa Barat, Meksiko dan Amerika Selatan .
Ukuran cacing ini tergolong dalam kategori besar. Ukuran tubuhnya yang panjang dapat mencapai 4 s.d. 12 meter. Terdiri dari kepala yang disebut skoleks, leher dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas proglotid sebanyak 1000 s.d. 2000 buah. Skoleks hanya berukuran 1 s.d. 2 milimeter, mempunyai empat batil isap dengan otot-otot yang kuat tanpa kait-kait. Bentuk leher sempit, ruas-ruas tidak jelas dan di dalamnya tidak terlihat struktur tertentu. Strobilus terdiri rangkaian proglotid yang teribagi menjadi tiga bagian, proglotid yang belum dewasa (immature), dewasa (mature) dan yang mengandung telur (gravid). Cacing pita termasuk sub kelas cestoda, kelas cestoidean, filum platyhelminthes. Cacing dewasanya menempati saluran usus vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrate. Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita. Bentuknya pipih dorsoventral, tidak mempunyai alat cerna atau saluran askular dan biasanya terbagi menjadi segmen-segmen yang disebut proglotid yang apabila dewasa nanti, akan berisi alat-alat reproduksi baik jantan maupun betina. Ujung-ujung bagian anterior berubah menjadi sebuah alat pelekat, disebut skoleks. Skoleks dilengkapi dengan alat penghisap dan kait-kait. Spesies penting yang dapat menimbulkan kelainan pada manusa umumnya adalah : Diphyllobothrium latum, Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Echinococcus multilocularis, Taenia saginata, dan Taenia solium.Sifat-sifat umum untuk sub kelas ini antara lain, badan cacing dewasa yang terdiri dari skoleks, leher dan strobila. Skoleks yaitu kepala yang merupakan alat untuk melekatkan, dilengkapi dengan batil isap atau dengan lekuk isap. Leher yaitu tempat pertumbuhan badan. Dan strobila merupakan badan yang terdiri atass segmen-segmen yang disebut proglotid. Tiap proglotid dewasa mempunyai susunan alat kelamin jantan dan betina yang lengkap, keadaan ini disebut hermafrodit.
1.
Daur Hidup
Sebuah proglotid gravid berisi kira-kira 100.000 buah telur. Pada saat proglotid terlepas dari rangkaiannya dan menjadi koyak, terdapat cairan putih susu yang mengandung banyak telur mengalir keluar dari sisi anterior proglotid tersebut, terutama jika proglotid berkontraksi pada saat bergerak. Telur-telur ini akan melekat pada rumput bersama dengan tinja, bila orang berdefekasi di padang rumput atau karena tinja yang hanyut dari sungai pada saat banjir. Ternak yang makan rumput ini akan terkontaminasi dan dihinggapi cacing gelembung, karena telur yang tertelan bersama rumput tersebut akan dicerna dan embrio heksakan akan menetas di dalam tubuh ternak. Embrio heksakan yang menetas di saluran pencernaan ternak akan menembus dinding usus, masuk ke saluran getah bening atau darah dan ikut dengan aliran darah ke jaringan ikat di sela-sela otot untuk tumbuh menjadi cacing gelembung yang disebut sistiserkus bovis, yaitu larva Taenia saginata yang terbentuk setelah 12 s.d. 15 minggu.
Bila cacing gelembung yang ada di otot hewan ini termakan oleh manusia, karena proses pemasakan yang tidak atau kurang matang, maka skoleknya akan keluar dari cacing gelembung dengan cara evaginasi. Skolek akan melekat pada mukosa usus halus seperti jejunum. Cacing Taenia saginata dalam waktu 8 s.d. 10 minggu akan menjadi dewasa.
Telur dilepaskan bersama proglotid atau tersendiri melalui lubang uterus. Embrio di dalam telur disebut onkosfer berupa embrio heksakan yang tumbuh menjadi bentuk infektif dalam hospes perantara. Infeksi terjadi jika menelan larva bentuk infektif atau menelan telur. Pada Cestoda dikenal dua ordo, yang pertama Pseudophyllidea dan yang kedua adalah Cyclopyllidea.
3.
Patologi dan Gejala Klinis
Gejala yang sering muncul pada penderita cacing pita Cestoda adalah perut mulas tanpa sebab, nafsu makan menurun, mual, kekurangan gizi, berat badan menurun. Telur cacing pita babi bisa menetas di usus halus, lalu memasuki tubuh atau struktur organ tubuh., sehingga muncul penyakit Cysticercosis, cacing pita cysticercus sering berdiam di jaringan bawah kulit dan otot, gejalanya mungkin tidak begitu nyata ; tetapi kalau infeksi cacing pita Cysticercus menjalar ke otak, mata atau ke sumsum tulang akan menimbulkan efek lanjutan yang parah.
Infeksi oleh cacing pita genus Taenia di dalam usus biasanya disebut Taeniasis. Ada dua spesies yang sering sebagai penyebab-nya, yaitu Taenia solium dan Taenia saginata. Menurut penelitian di beberapa desa di Indonesia, angka infeksi taenia tercatat 0,8–23%., frekuensinya tidak begitu tinggi. Namun demikian, cara penanganannya perlu mendapat perhatian, terutama kasus-kasus taeniasis Taenia solium yang sering menyebabkan komplikasi sistiserkosis.
Cara infeksinya melalui oral karena memakan daging babi atau sapi yang mentah atau setengah matang dan me-ngandung larva cysticercus. Di dalam usus halus, larva itu menjadi dewasa dan dapat menyebabkan gejala gastero- intestinal seperti rasa mual, nyeri di daerah epigastrium, napsu makan menurun atau meningkat, diare atau kadang-kadang konstipasi. Selain itu, gizi penderita bisa menjadi buruk se-hingga terjadi anemia malnutrisi. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan eosinofilia. Semua gejala tersebut tidak spesifik bahkan sebagian besar kasus taeniasis tidak menunjukkan gejala (asimtomatik).
Cacing dewasa Taenia saginata biasanya menyebabkan gejala klinis yang ringan, seperti sakit ulu hati, perut merasa tidak enak, mual, muntah, mencret, pusing atau gugup. Gejala-gejala tersebut disertai dengan ditemukannya proglotid cacing yang bergerak-gerak lewat dubur bersama dengan atau tanpa tinja. Gejala yang lebih berat dapat terjadi, yaitu apabila proglotid menyasar masuk apendiks, atau terdapat ileus yang disebabkan obstruksi usus oleh strobilla cacing. Berat badan tidak jelas menurun. Eosinofilia dapat ditemukan di darah tepi.
Meskipun infeksi ini biasanya tidak menimbulkan gejala, beberapa penderita merasakan nyeri perut bagian atas, diare dan penurunan berat badan. Kadang-kadang penderita bisa merasakan keluarnya cacing melalui duburnya.
4.
Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan ditemukannya cacing di dalam tinja. Sepotong selotip ditempelkan di sekeliling lubang dubur, lalu dilepas dan ditempelkan pada sebuah kaca obyek dan diperiksa dibawah mikroskop untuk melihat adanya telur parasit. Melalui mikroskop memeriksa sample tinja apakah ada telur cacing parasit, ookista protozoa dan takizoit.
Diagnosa dapat ditegakkan berdasarkan atas anamnesis dan pemeriksaan laboratorium. Anamnesis: penderita pernah mengeluarkan benda pipih berwarna putih seperti “ampas nangka” bersama tinja atau keluar sendiri dan bergerak-gerak. Benda itu tiada lain adalah potongan cacing pita (proglotid). Cara keluarnya proglotid Taenia solium berbeda dengan Taenia saginata. Proglotid Taenia solium biasanya keluar bersama tinja dalam bentuk rangkaian 5–6 segmen. Sedangkan Taenia saginata, proglotidnya keluar satu-satu bersama tinja dan bahkan dapat bergerak sendiri secara aktif hingga keluar secara spontan.
4.
Pemeriksaan laboratorium
Secara makroskopis (melihat tanpa menggunakan alat), yang diperhatikan dalam hal ini adalah bentuk proglotidnya yang keluar bersama tinja. Bentuknya cukup khas, yaitu segiempat panjang pipih dan berwarna putih keabu-abuan.
Pemeriksaan secara mikroskopis untuk mendeteksi telurnya dapat dikerjakan dengan preparat tinja langsung (directsmear) memakai larutan eosin. Cara ini paling mudah dan murah, tetapi derajat positivitasnya rendah. Untuk mendapatkan hasil positivitas yang lebih tinggi, pemeriksaan dikerjakan dengan metoda konsentras (centrifugal flotation) atau dengan cara perianal swab memakai cellophane tape.
Gambar 5: Proglotid mature/gravid Taenia saginata
Jika hanya menemukan telur dalam tinja, tidak bisa dibedakan taeniasis Taenia solium dan taeniasis Taenia saginata. Agar dapat membedakannya, perlu mengadakan pemeriksaan scolex dan proglotid gravidnya. Scolex dan proglotid gravid dibuat preparat permanen diwarnai dengan borax carmine atau trichrome, kemudian dilihat di bawah mikroskop. Dengan memperhatikan adanya kait-kait (hooklet) pada scolex dan jumlah percabangan lateral uterusnya, maka dapat dibedakan spesies Taenia solium dan Taenia saginata. Pada scolex Taenia solium terdapat rostellum dan hooklet, sedangkan pada Taenia saginata tidak terdapat. Percabangan lateral uterus Taenia solium jumlahnya 7–12 buah pada satu sisi, dan Taenia saginata 15-30 buah.
Ada cara yang lebih sederhana untuk memeriksa proglotid gravid, yaitu dengan memasukkan proglotid itu ke dalam larutan carbolxylol 75%. Dalam waktu satu jam, proglotid menjadi jernih dan percabangan uterusnya tampak jelas. Cara lainnya yang paling sederhana dan gampang dikerjakan ialah dengan menjepitkan proglotid yang masih segar di antara dua objek gelas secara pelan dan hati-hati. Proglotid akan tampak jernih dan percabangan uterusnya yang penuh berisi telur tampak keruh. Pemeriksaan bisa gagal apabila percabang- an uterusnya robek dan semua telurnya keluar .
6.
Pengobatan
Cara pengobatan berbagai penyakit parasit usus berbeda, harus memakai obat cacing menurut resep dokter. Obat-obat untuk memberantas cacing pita dapat digolongkan menjadi dua, yaitu taeniafuge dan taeniacide. Taeniafuge ialah golongan obat yang menyebabkan relaksasi otot cacing sehingga cacing menjadi lemas. Contohnya: kuinakrin hidroklorid (atabrin), bitionol dan aspidium oleoresin. Pemakaian obat ini mutlak memerlukan purgativa untuk mengeluarkan cacingnya. Sedangkan taeniacide adalah golongan obat yang dapat membunuh cacing. Contohnya: niklosamid (yomesan), mebendazol dan diklorofen. Pemakaian obat ini tidak mutlak memerlukan purgativa.
Tujuan pengobatan taeniasis ialah untuk mengeluarkan semua cacing beserta scolex-nya dan juga mencegah terjadinya sistiserkosis, terutama pada kasus taeniasis Taenia solium. Obat-obat yang kini lazim dipakai adalah niklosamid dan mebendazol. Sedangkan kuinakrin hidroklorid dan aspidium oleoresin walaupun cukup efektif, tetapi karena bersifat toksik maka sekarang jarang dipakai. Selain itu, ada beberapa obat tradisional yang cukup ampuh buat membasmi cacing pita, yaitu biji labu merah dan getah buah manggis muda.
Niklosamid hingga saat ini masih dianggap obat paling baik untuk taeniasis dari segi efektivitasnya. Obat tersedia dalam bentuk tablet 500 miligram. Dosis dan cara pemberian: 2 gram dibagi dua dosis dengan interval pemberian 1 jam. Obat harus dikunyah sebelum diminum. Dua jam setelah pemberian obat, penderita diberi minum purgativa magnesiumsulfat 30 gram untuk mencegah terjadinya sistiserkosis. Keuntungan dari obat ini ialah tidak memerlukan persiapan diet ataupun puasa, dan efek sampingnya juga ringan. Namun menurut pengalaman penulis, efektivitas obat ini akan lebih baik apabila penderita dipuasakan sebelum meminumnya. Angka kesembuhan tercatat 95% lebih. Kerugiannya: obat ini tidak beredar resmi di pasaran sehingga sulit didapatkan. Di samping itu harganya pun mahal.
Agaknya mebendazol merupakah salah satu taeniacide yang mempunyai masa depan cerah dan kini masih dalam penyelidikan. Mebendazol adalah anthelmintik berspektrum lebar. Dosisnya 300 miligram dua kali sehari selama tiga hari berturut-turut. Dua hari setelah pengobatan, penderita diberi minum purgativa magnesiumsulfat 30 gram, terutama pada kasus taeniasis Taenia solium untuk mencegah terjadinya sistiserkosis. Menurut beberapa hasil penelitian, angka kesembuhan tercatat 50 — 100%. Dilaporkan pula bahwa efek samping obat ini sangat ringan. Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, beberapa peneliti menganjurkan dosis lebih tinggi (sampai 1200 miligram per hari selama lima hari). Praktek pengobatan taeniasis dengan mebendazol cukup memuaskan. Namun beberapa peneliti masih menyangsikan keampuhan mebendazol, bahkan ada yang melaporkan gagal sama sekali. Dengan demikian, efektivitas mebendazol pada taeniasis masih perlu diselidiki lebih lanjut (Ketut Ngurah, 1987). Tinja diperiksa kembali setelah 3 dan 6 bulan untuk memastikan bahwa infeksi telah terobati.
Obat alternative untuk infeksi tenia ada yang dalam bentuk obat alami. Obat alami atau obat tradisional ini antara lain dengan mengkonsumsi biji labu merah, biji pinang dan lain-lain.
7.
Pencegahan
Cara untuk mencegah agar tidak menderita gangguan yang disebabkan oleh Taenia saginata antara lain sebagai berikut :

Tidak makan makanan mentah (sayuran,daging babi, daging sapi dan dagiikan), buah dan melon dikonsumsi setelah dicuci bersih dengan air.

Minum air yang sudah dimasak mendidih baru aman.

Menjaga kebersihan diri, sering gunting kuku, membiasakan cuci tangan menjelang makan atau sesudah buang air besar.

Tidak boleh buang air kecil/besar di sembarang tempat, tidak menjadikan tinja segar sebagai pupuk; tinja harus dikelola dengan tangki septik, agar tidak mencemari sumber air.

Di Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar harus secara rutin diadakan pemeriksaan parasit, sedini mungkin menemukan anak yang terinfeksi parasit dan mengobatinya dengan obat cacing.

Bila muncul serupa gejala infeksi parasit usus, segera periksa dan berobat ke rumah sakit.

Meski kebanyakan penderita parasit usus ringan tidak ada gejala sama sekali, tetapi mereka tetap bisa menularkannya kepada orang lain, dan telur cacing akan secara sporadik keluar dari tubuh bersama tinja, hanya diperiksa sekali mungkin tidak ketahuan, maka sebaiknya secara teratur memeriksa dan mengobatinya.
8.
Epidemiologi
Cacing Taenia saginata sering ditemukan di Negara yang penduduknya banyak makan daging sapi atau kerbau. Cara penduduk memakan daging tersebut yaitu matang, setengah matang atau bahkan mentah sama sekali tanpa proses pemasakan. Cara makan dan cara memelihara ternak inilah yang kemudia menjadi berperan dalam proses terjadinya infeksi cacing Taenia. Ternak yang dilepas di padang rumput lebih mudah dihinggapi cacing gelembung tersebut, daripada ternak yang dipelihara dan dirawat dengan baik di kandang secara tertutup. Pencegahan dapat dilakukan antara lain dengan cara mendinginkan daging yang akan dikonsumsi sampai suhu -10 derajat Celsius, iradiasi dan memasak daging sampai matang.
DAFTAR PUSTAKA
Anonym. 2009. Bahan penyuluhan pencegahan penyakit parasit usus yang sering Terjadi. http://www.cdc.gov.tw/public/attachment/821314143071.pdf.
Anonym. 2009. Taenia solium. Http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.kkict.org/~kkhealth/picture/taenia_lifecycle.gif&imgrefurl=http://www.kkict.org/~kkhealth/pagehome/taenia_solium.html&usg=__i5ftrvugt518th2cdyrxfpdrww8=&h=435&w=586&sz=22&hl=id&start=1&um=1&tbnid=mg6dp1-zjgbjum:&tbnh=100&tbnw=135&prev=/images%3fq%3dtaenia%2bsaginata%26hl%3did%26sa%3dx%26um%3d1
Gunarto latama. 2009. Cestoda: parasit cacing pada ikan dan ke manusia.
Ketut ngurah. 1987. Taeniasis dan sistiserkosis. Http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/10_taeniasisdansistiserkosis.pdf/10_taeniasisdansistiserkosis.html
Nur cahyo. 2009. Infeksi cacing pita sapi. Http://www.indonesiaindonesia.com/f/11346-infeksi-cacing-pita-sapi/
Srisasi gandahusada, dkk. 2006. Parasitologi kedokteran. Jakarta : fakultas kedokteran ui edisi ketiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar