NAMA : Ade Yoga Priyatna
NIM : ANK101001
JURUSAN : Analis Kesehatan
A. LAKTAT DEHIDROGENASE (LDH)
PRA ANALITIK
• Persiapan pasien : tidak ada persiapan khusus.
• Persiapan sample : tidak ada persiapan khusus
• Metode : kinetik UV
Prinsip tes
Pyruvate + NADH + H+ → L-Laktat + NAD+NADH
akan mengoksidasi secara langsung dengan bantuan aktivasi LDH dan diukur dengan fotometer.
Alat dan bahan :
• Pipet mikro 50 µl
• Tabung mikro
• Rak tabung
• Reagen 1 berisi NADH 0,22 mol
• Reagen 2 berisi Tris 89 mmol, Pyruvat 1,8 mmol, Sodium Ch/Na Ch 222 mmol, Sodium Azide <0,1
ANALITIK
Cara kerja :
• Masukkan 50 µl sampel ke dalam cup sample, lalu letakkan dalam rak sampel sesuai nomor pemeriksaan
• Tempatkan reagen pada rak reagen sesuai program tes LDH.
• Masukkan nomor identitas penderita dan program tes .
• Pengukuran akan dilakukan secara otomatis.
• Hasil tes akan keluar pada print out. 12
• Nilai rujukan : 100-190 U/L
PASCA ANALITIK
• Interpretasi
Laktat dehidrogenase (LDH) meningkat pada RA, gout dan artritis karena infeksi tetap normal pada penyakit sendi generatif.
B. PEMERIKSAAN GAMA GLOBULIN
1. Tujuan : Untuk mengetahui kadar gama globulin pada serum pasien
2. Metode : Biuret
3. Prinsip :
Serum ditambahkan perekasi gama globulin, disentrifuge. Presipitat diteteskan NaCl
yang akan menghasilkan warna, warna ini diperiksa pada spektrofotometer. Intensitas warna
yang dibaca menunjukkan kadar gama globulin pada pasien.
4. Dasar teori:
Gama globulin merupakan termasuk dalam globulin, yang diidentifikasi setelah elektroforesis protein serum. Gamma globulin kebanyakan signifikan dengan imunoglobulin (Igs), yang lebih dikenal dengan antibodi, meskipun beberapa Igs tidak merupakan gama globulin dan beberapa gama globulin tidak termasuk Igs (anonim,2010). Suntikan gama globulin biasanya diberikan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pasien terhadap penyakit. Suntikan yang sering digunakan pada pasien yang terkena hepatitis A tanpa memandang jenis darah. Suntikan juga digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada pasien yang tidak dapat menjasilkan gama globulin secara alami karenaadanya defisiensi imun, seperti link-agammaglobulinemia-x dan sindrom hiper IgM. Suntikan tersebut kurang praktis dan digantikan dengan menggunakan Vaksin hepatitis A (anonim,2010).
Gama globulin infus juga digunakan untuk mengobati beberapa penyakit imunologi, misalnya pupura trombositepenia idiopatik (ITP), suatu penyakit dimana trombosit terserang antibodi, menyebabkan jumlah platelet yang rendah. Gamma globulin menyebabkan limfa mengakibatkan antibodi-tag pada trombosit, sehingga memungkinkan untuk bertahan hidup (anonim,2010).
5. Alat dan Bahan
a. Alat :
Tabung reaksi dan raknya
Spektrofotometer
Pipet ukur
Ball pipet
Mikro pipet
b. Bahan: :
Pereaksi gama globulin
Pereaksi biuret
Larutan NaCl 0,9%
Standar Protein
Sampel serum 583
6. Cara Kerja
Pengendapan protein
• Dipipet 2,4 ml pereaksi gama globulin dalam tabung reaksi.
• Dipipet 0,1 ml serum, dicampur dengan membolak-balikkan tabung.
• Disentrifugasi selama ± 15 menit (bila sentrifugat tampak keruh tabung didinginkan dalam bak berisi es selama 1 jam).
• Sentrifugat dituang hati-hati, tabung diletakkan terbalik diatas secarik kertas saring beberapa
• menit. Dibersihkan sisa-sisa sentrifugat yang melekat pada dinding tabung dengan kertas saring.
• Presipitat dipakai untuk pemeriksaan (supernatan sebanyak 0,1 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebagai test).
Test Blanko Standar
• Presipitat (ml) +++ - -
• Larutan NaCl 0,9% (ml) 1 0,9 1,0
• Standar protein - 0,1 –
• Biuret 3 3 3
• Dicampur, ditangguhkan 30 menit, dibaca pada spektrofotometer ada panjang gelombang
• 540 nm.
nilai normal =0,7 – 1,7 gr %
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010. Gammaglobulin. http://wikipedia.edu. Diakses tanggal 1 april 2011. Denpasar
C. PEMERIKSAAN BILIRUBIN DIRECT DAN TOTAL BILIRUBIN
Tujuan : Untuk mengetahui kadar blirubin direct dan bilirubin total pasien
Metode : Jenddrask Groff
Prinsip :
Bilirubin akan bereakdi dengan diazotized sulfanilic acid (DSA) membentuk zat warna merah, absorban zat warna merah ini pada 530 nm adalah proporsional terhadap konsentrasi bilirubin dalam saple. Bilirubin glukoronida yang larut dalam air bereaksi langsung (direk) dengan DSA, sedangkan bilirubin yang terikat pada albumin bereaksi tidak langsung/indirek dengan DSA.
Dasar Teori :
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan hemedari hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tidak larut dalam air; bilirubin yang disekresikan dalam darah harus diikatkan kepada albumin untuk diangkut dalam plasma menuju hati. Di dalamhati, Hepatosit melepaskan ikatan itu dan mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga bersifat larut air. Proses konjugasi ini melibatkan enzim glukoronil transferase (anonim,2010).
Bilirubin terkonjugasi (bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin) masuk kesaluran empedu dan diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi urobilinogen dan dibuang melalui feses serta sebagian kecil melalui urin. Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang terdiazotasi membentuk azobilirubin (reaksi van den Bergh), karena itu sering dinamakan bilirubin direk atau bilirubin langsung (anonim,2010).
Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) yang merupakan bilirubin bebas yang terikat albumin harus lebih dulu dicampur dengan alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi, karena itu dinamakan bilirubin indirek atau bilirubin tidak langsung (anonim,2010).
Peningkatan kadar bilirubin direk menunjukkan adanya gangguan pada hati (kerusakanselhati) atau saluran empedu (batuatau tumor). Bilirubin Terkonjugasi tidak dapat keluar dari empedu menuju usus sehingga akan masuk kembali dan terabsorbsi ke dalam aliran darah (anonim,2010).
Peningkatan kadar bilirubin indirek sering dikaitkan dengan peningkatan destruksi eritrosit (hemolisis), seperti pada penyakit hemolitik oleh autoimun, transfusi, atau eritroblast osisfatalis. Peningkatan destruksi eritrosit tidak diimbangi dengan kecepatan kunjugasi dan ekskresi ke saluran empedu sehingga terjadi peningkatan kadar bilirubin indirek (anonim,2010).
Hati bayi yang baru lahir belum berkembang sempurna sehingga jika kadar bilirubin yang ditemukan sangat tinggi, bayi akan mengalami kerusakan neurologis permanen yang lazim disebut kenikterus. Kadar bilirubin (total) pada bayi baru lahir bisa mencapai 12 mg/dl; kadar
yang menimbulkan kepanikan adalah> 15 mg/dl. Ikterik kerap Nampak jika kadar bilirubin
mencapai> 3 mg/dl. Kenikterus timbul karena bilirubin yang berkelebihan larut dalam lipid ganglia basalis (anonim,2010).
Dalam uji laboratorium, bilirubin diperiksa sebagai bilirubin total dan bilirubin direk. Sedangkan bilirubin indirek diperhitungkan dari selisih antara bilirubin total dan bilirubin direk. Metode pengukuran yang digunakan adalah fotometri atau spektrofotometri yang mengukur intensitas warna azobilirubin (anonim,2010).
Nilai Rujukan (anonim,2010)
• DEWASA : total : 0.1 – 1.2 mg/dl, direk : 0.1 – 0.3 mg/dl, indirek : 0.1 – 1.0 mg/dl
• ANAK : total : 0.2 – 0.8 mg/dl, indirek : sama dengan dewasa.
• BAYI BARU LAHIR : total : 1 – 12 mg/dl, indirek : sama dengan dewasa.
Masalah Klinis(anonim,2010)
Bilirubin Total, Direk
PENINGKATAN KADAR :
Ikterik obstruktif karena batu atau neoplasma, hepatitis, sirosishati, mononucleosis infeksiosa, metastasis (kanker) hati, penyakit Wilson. Pengaruhobat : antibiotic (amfoterisin B, klindamisin, eritromisin, gentamisin, linkomisin, oksasilin, tetrasiklin), sulfonamide, obatantituberkulosis ( asampara-aminosalisilat, isoniazid), alopurinol, diuretic (asetazolamid, asametakrinat), mitramisin, dekstran, diazepam (valium), barbiturate, narkotik (kodein, morfin, meperidin), flurazepam, indometasin, metotreksat, metildopa, papaverin, prokainamid, steroid, kontrasepsi oral, tolbutamid, vitamin A, C, K.
PENURUNAN KADAR :
anemia defisiensibesi. Pengaruhobat : barbiturate, salisilat (aspirin), penisilin, kafeindalamdosistinggi.
Bilirubin indirek
PENINGKATAN KADAR :
eritroblastosis fetalis, anemia sel sabit, reaksi transfuse, malaria, anemia pernisiosa, septicemia, anemia hemolitik, talasemia, CHF, sirosis terdekompensasi, hepatitis. Pengaruh obat : aspirin, rifampin, fenotiazin (lihat biliribin total, direk)
PENURUNAN KADAR :
pengaruh obat (lihat bilirubin total, direk)
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
• Makan malam yang mengandung tinggi lemak sebelum pemeriksaan dapat mempengaruhi kadar bilirubin.
• Wortel dan ubi jalar dapat meningkatkan kadar bilirubin.Hemolisis pada sampel darah dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan.
• Sampel darah yang terpapar sinar matahari atau terang lampu, kandungan pigmen empedunya akan menurun.
• Obat-obatan tertentu dapat meningkatkan atau menurunkan kadar bilirubin.
D. SGOT DAN SGPT
Tujuan:
Memperlihatkan dan memahami konsep aktivitas spesifik enzim Glutamat Piruvat Transaminase (GPT) dan Glutamate-Oksaloasetat Transaminase (GOT)
Teori singkat :
SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, Sebuah enzim yangbiasanya hadir dalam dan jantung sel-sel hati. SGOT dilepaskan ke dalam darah ketika hati ataujantung rusak. Tingkat darah SGOT ini adalah demikian tinggi dengan kerusakan hati (misalnya,dari hepatitis virus ) atau dengan penghinaan terhadap jantung (misalnya, dari serangan jantung).Beberapa obat juga dapat meningkatkan kadar SGOT. SGOT juga disebut aspartateaminotransferase (AST).
Sedangkan SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, SGPTatau juga dinamakan ALT (alanin aminotransferase) merupakan enzim yang banyak ditemukanpada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Enzim ini dalam jumlahyang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot rangka. Pada umumnya nilai tesSGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada kerusakan parenkim hati akut, sedangkanpada proses kronis didapat sebaliknya.
SGPT/ALT serum umumnya diperiksa secara fotometri atau spektrofotometri, secarasemi otomatis atau otomatis. Nilai rujukan untuk SGPT/ALT adalah :
• Laki-laki : 0 – 50 U/L
• Perempuan : 0 – 35 U/L
Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebutdalam plasma lebih besar dari kadar normalnya.Kondisi yang meningkatkan kadar SGPT/ALT adalah :
• Peningkatan SGOT/SGPT > 20 kali normal : hepatitis viral akut, nekrosis hati (toksisitasobat atau kimia)
• Peningkatan 3-10 kali normal : infeksi mononuklear, hepatitis kronis aktif, sumbatanempedu ekstra hepatik, sindrom Reye, dan infark miokard (SGOT>SGPT)
• Peningkatan 1-3 kali normal : pankreatitis, perlemakan hati, sirosis Laennec, sirosisbiliaris
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
• Pengambilan darah pada area yang terpasang jalur intra-vena dapat menurunkan kadar
• Trauma pada proses pengambilan sampel akibat tidak sekali tusuk kena dapatmeningkatkan kadar
• Hemolisis sampel
• Obat-obatan dapat meningkatkan kadar : antibiotik (klindamisin, karbenisilin,eritromisin, gentamisin, linkomisin, mitramisin, spektinomisin, tetrasiklin), narkotika(meperidin/demerol, morfin, kodein), antihipertensi (metildopa, guanetidin), preparatdigitalis, indometasin (Indosin), salisilat, rifampin, flurazepam (Dalmane), propanolol(Inderal), kontrasepsi oral (progestin-estrogen), lead, heparin.
• Aspirin dapat meningkatkan atau menurunkan kadar
Alat:
• Spekrtrofotometer
• Tabung reasi + rak
• Jarum suntik
• Alcohol pads
• Mikropipet
• Tipp
Bahan:
• Plasma darah (hindarkan hemolisis)
• Reagen 1 (R1/reagen enzim):
o Tris Buffer pH7,5 100 mmol/L
o L-Alanin 500 mmol/L-. LDH 1200 U/L
o Reagen 2 (R2/reagen pemulai)
2-oxoketoglutarat 15 mmol/L-. NADH0,18 mmol/L
Cara kerja:
1. Lakukan pengambilan darah sebanyak 3ml (hindari hemolisis), masukkan kedalamtabung vacutest kemudian disentrifugasi untuk mendapatkan plasmanya
2. Hangatkan reagen dan cuvet pada temperature yang diinginkan dan temperature haruskonstan (±0,5ÛC)
3. Campurkan sampel 200L dengan reagen 1 1000L lalu diinkubasi pada temperature25/30ÛC, sampel 100L dengan reagen 1 1000L lalu diinkubasi selama 5 menit padatemperatur 37ÛC
4. Tambahkan reagen 2, masing-masing sebanyak 250
5. Campurkan reagen dengan sampel, baca absorbansi pada panjang gelombang 365nm,setelah 1 menit dan pada saat yang sama, hitung waktu dengan stopwatch
6. Baca lagi absorbansi dengan pasti setelah 1 menit, 2 menit dan 3 menit.
E. CAIRAN DAN ELEKTROLIT TUBUH
Cairan Tubuh
Tubuh manusia terdiri dari cairan antara 50% - 60% dari berat badan. Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan tubuh terbagi atas 2 kompartemen yaitu :
1. Cairan intraseluler
Cairan intraseluler terdiri dari 40% dari berat badan orang dewasa atau 70% total dari cairan tubuh
2. Cairan ekstraseluler.
Cairan ekstraseluler terdiri dari 20% dari berat badan orang dewasa atau 30% dari total dari cairan tubuh ( Metheny, 1992 dari C.Taylor, C. Lillis dan P. LeMone, 1998). Cairan ekstraseluler terdiri dari cairan intravascular dan interstisial. Cairan intravascular atau plasma merupakan cairan dari komponen darah. Cairan interstisial adalah cairan yang terdapat pada jaringan sel dan limpa.
Cairan Total Tubuh ( Total Body Water) atau TBW/TBF adalah jumlah total cairan yang dikeluarkan prosentase dari berat badan.
Elektrolit
Adalah substansi ion-ion yang bermuatan listrik yang terdapat pada cairan. Ion-ion positif disebut kation dan ion-ion negative disebut anion. Satuan pengukuran elektrolit menggunakan istilah milliequivalent (mEq). Satu milliequivalent adalah aktivitas secara kimia dari 1 mg dari hidrogen.
Pengaturan Elektrolit
Sodium ( Natrium/ Na+) adalah elektrolit paling banyak terdapat pada cairan ekstraseluler. Ekstraseluler, mempengaruhi volume cairan intraseluler, sebagai hantaran impuls saraf dan kontraksi otot, sebagai dasar elektrolit pada pompa Natrium – Kalium. Natrium diatur oleh intake garam, aldosteron dan pengeluaran urin. Nilai normal sekitar 135-145 mEq/ L (mmol/L).
Potassium ( Kalium )
Adalah kation yang paling banyak pada intraseluler . Kalium berfungsi sebagai pengatur aktivitas enzim sel dan komponen dari cairan sel. Berperan vital pada proses transmisi dari impuls listrik dan kontraksi syaraf, jantung, otot, intestinal, dan jaringan paru; metabolisme protein dan karbohidrat. Membantu pada pengaturan keseimbangan asam basa karena ion K dapat diubah menjadi ion hydrogen. Pengaturan ion K oleh pompa Natrium, sekresi aldosteron merangsang ekskresi K dalam urin. Nilai normal Kalium sekitar 3,5 – 5 mEq/L.
Calsium ( Kalsium )
Berfungsi untuk transmisi impuls syaraf dan pembekuan darah, katalisatos kontraksi otot dan kekuatan kontraksi otot. Dibutuhkan untuk absorpsi vitamin B12 dan kekuatan tulang dan gigi. Kalsium dalam cairan ekstrasel diatur oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormon paratiroid mengabsorpsi kalsium melalui gastrointestinal, sekresi melalui ginjal. Hormon thyrokalsitonin menghambat penyerapan Kalsium tulang. Nilai normal 1,3 – 2, 1mEq/L atau 1/3 dari jumlah plasma protein .
Magnesium
Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Berfungsi pada aktivitas enzim, metabolisme karbohidrat dan protein. Magnesium di absorpsi oleh intestinal dan diekskresi oleh ginjal. Nilai normal 1,3 – 2, 1 mEq/L atau 1/3 dari jumlah plasma protein
Chlorida (Klorida)
Merupakan cairan anion ekstraseluler ditemukan di darah, cairan intestinal, dan limpa. Berfungsi mempertahankan tekanan osmotik darah. Nilai normal klorida sekitar 95 – 105 mEq/L (mmol/L).
Bikarbonat
Bikarbonat merupakan molekul anion. Berfungsi pada keseimbangan asam basa. Di atur oleh ginjal. Nilai normal sekitar 25 – 29 mEq/ L (mmol/L)
Fosfat
Ion fosfat merupakan anion dalam sel tubuh. Berfungsi sebagai keseimbangan asam basa. Penting pada pembelahan sel dan transmisi dari herediter. Fosfat diatur oleh PTH (Parathyroidhormon) dan diaktifkan oleh vitamin D. Nilai normal sekitar 2,5 – 4,5 mEq/L
(mmol/L)
Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit
• Usia
• Suhu lingkungan
• Diet
• Stress
• Sakit
Mekanisme pergerakan melalui tiga proses:
1. Difusi adalah proses dimana partikel yang terdapat dalam cairan bergerak dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan.
2. Osmosis adalah bergeraknya pelarut bersih seperti air§ melalui membran semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke konsentrasi yang tinggi yang sifatnya menarik.
3. Transport Aktif adalah bahan bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi karena daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung
INGAT: Cairan seimbang (balance) yaitu antara intake dan output pada orang dewasa
sekitar 1500 – 3500 mL dalam 24 jam.
F. ALKALI PHOSPATASE
Fosfatase alkali (alkaline phosphatase, ALP) merupakan enzim yang diproduksi terutama oleh epitel hati dan osteoblast (sel-sel pembentuk tulang baru); enzim ini juga berasal dari usus, tubulus proksimalis ginjal, plasenta dan kelenjar susu yang sedang membuat air susu. Fosfatase alkali disekresi melalui saluran empedu. Meningkat dalam serum apabila ada hambatan pada saluran empedu (kolestasis). Tes ALP terutama digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyakit hati (hepatobiliar) atau tulang.
Pada orang dewasa sebagian besar dari kadar ALP berasal dari hati, sedangkan pada anak-anak sebagian besar berasal dari tulang. Jika terjadi kerusakan ringan pada sel hati, mungkin kadar ALP agak naik, tetapi peningkatan yang jelas terlihat pada penyakit hati akut. Begitu fase akut terlampaui, kadar serum akan segera menurun, sementara kadar bilirubin tetap meningkat. Peningkatan kadar ALP juga ditemukan pada beberapa kasus keganasan (tulang, prostat, payudara) dengan metastase dan kadang-kadang keganasan pada hati atau tulang tanpa matastase (isoenzim Regan).
Kadar ALP dapat mencapai nilai sangat tinggi (hingga 20 x lipat nilai normal) pada sirosis biliar primer, pada kondisi yang disertai struktur hati yang kacau dan pada penyakit-penyakit radang, regenerasi, dan obstruksi saluran empedu intrahepatik. Peningkatan kadar sampai 10 x lipat dapat dijumpai pada obstruksi saluran empedu ekstrahepatik (misalnya oleh batu) meskipun obstruksi hanya sebagian. Sedangkan peningkatan sampai 3 x lipat dapat dijumpai pada penyakit hati oleh alcohol, hepatitis kronik aktif, dan hepatitis oleh virus.
Pada kelainan tulang, kadar ALP meningkat karena peningkatan aktifitas osteoblastik (pembentukan sel tulang) yang abnormal, misalnya pada penyakit Paget. Jika ditemukan kadar ALP yang tinggi pada anak, baik sebelum maupun sesudah pubertas, hal ini adalah normal karena pertumbuhan tulang (fisiologis). Elektroforesis bisa digunakan untuk membedakan ALP hepar atau tulang. Isoenzim ALP digunakan untuk membedakan penyakit hati dan tulang; ALP1 menandakan penyakit hati dan ALP2 menandakan penyakit tulang.
Jika gambaran klinis tisak cukup jelas untuk membedakan ALP hati dari isoenzim-isoenzim lain, maka dipakai pengukuran enzim-enzim yang tidak dipengaruhi oleh kehamilan dan pertumbuhan tulang. Enzim-enzim itu adalah : 5’nukleotidase (5’NT), leusine aminopeptidase (LAP) dan gamma-GT. Kadar GGT dipengaruhi oleh pemakaian alcohol, karena itu GGT sering digunakan untuk menilai perubahan dalam hati oleh alcohol daripada untuk pengamatan penyakit obstruksi saluran empedu.
Metode pengukuran kadar ALP umumnya adalah kolorimetri dengan menggunakan alat (mis. fotometer/spektrofotometer) manual atau dengan analizer kimia otomatis. Elektroforesis isoenzim ALP dilakukan untuk membedakan ALP hati dan tulang. Bahan pemeriksaan yang digunakan berupa serum atau plasma heparin.
Nilai Rujukan
• DEWASA : 42 – 136 U/L, ALP1 : 20 – 130 U/L, ALP2 : 20 – 120 U/L,Lansia : agak lebih tinggi dari dewasa
• ANAK-ANAK : Bayi dan anak (usia 0 – 20 th) : 40 – 115 U/L), Anak berusia lebih tua (13 – 18 th) : 50 – 230 U/L.
Masalah Klinis
• PENINGKATAN KADAR : obstruksi empedu (ikterik), kanker hati, sirosis sel hati, hepatitis, hiperparatiroidisme, kanker (tulang, payudara, prostat), leukemia, penyakit Paget, osteitis deforman, penyembuhan fraktur, myeloma multiple, osteomalasia, kehamilan trimester akhir, arthritis rheumatoid (aktif), ulkus. Pengaruh obat : albumin IV, antibiotic (eritromisin, linkomisin, oksasilin, penisilin), kolkisin, metildopa (Aldomet), alopurinol, fenotiazin, obat penenang, indometasin (Indocin), prokainamid, beberapa kontrasepsi oral, tolbutamid, isoniazid, asam para-aminosalisilat.
• PENURUNAN KADAR : hipotiroidisme, malnutrisi, sariawan/skorbut (kekurangan vit C), hipofosfatasia, anemia pernisiosa, isufisiensi plasenta. Pengaruh obat : oksalat, fluoride, propanolol (Inderal)
Faktor yang dapat mempengaruhi temuan laboratorium :
• Sampel hemolisis,
• Pengaruh obat-obatan tertentu (lihat pengaruh obat),
• Pemberian albumin IV dapat meningkatkan kadar ALP 5-10 kali dari nilai normalnya,
• Usia pasien (mis. Usia muda dan tua dapat meningkatkan kadar ALP),
• Kehamilan trimester akhir sampai 3 minggu setelah melahirkan dapat meningkatkan kadar ALP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar