Rabu, Oktober 03, 2012

Pemeriksaan Feses

FESES Dalam keadaan normal tinja terdiri dari air dan sisa makanan, zat hasil sekresi saluran pencernaan, epitel usus,bakteri apatogen, asam lemak, urobilin, gas indol, skatol dan sterkobilinogen. Pada keadaan patologik seperti diare didapatkan peningkatan sisa makanan dalam tinja, karena makanan melewati saluran pencernaan dengan cepat dan tidak dapat diabsorpsi secara sempurna. Feses diperiksa dalam keadaan segar Unsur2 akan rusak Wadah sampel kaca/plastik yg tembus cahaya bermulut lebar Sampel feses bagian bercampur darah/lendir unsur2 patologik tdk merata Makroskopis warna,bau,lendir konsistensi,darah Pemeriksaan Mikroskopis epitel,makrofag Feses leuko,eri,kristal, sisa makanan sel ragi,telur& jentik cacing Darah Samar Pemeriksaan makroskopis a. Warna b. Bau Bau normal feses disebabkan oleh indol, skatol dan asam butirat. Bau menjadi busuk bila dalam usus terjadi pembusukan akibat dari protein yg tdk di rombak oleh kuman2, bau asam akibat dari fermentasi zat2 gula yg tdk dicerna, ex: diare c. Konsistensi Feses normal agak lunak dengan mempunyai bentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya pada konstipasi didapat tinja keras d.Lendir Lendir memberikan gambaran adanya radang dinding usus Lendir bag.luar feses radang usus besar campur radang usus kecil lendir saja disentri d. Darah Perhatikan darah !!! Jumlah darah yang besar ulcus,carsinoma, Hemorhoid e. Parasit Yang mungkin terlihat : cacing ascaris, ancylostoma,dll. ascaris Pemeriksaan Mikroskopis Penting menemukan protozoa dan telur cacing Cara pemeriksaan makroskopis : Siapkan 4 objek glass Tetesi masing2 dgn 1 tts zat warna eosin, lugol, sudan III, asam asetat glasial Ambil seujung lidi feses, campur Aduk sampai homogen Tutup dengan kaca penutup 6. Amati masing2 apusan di bawah mikroskop dgn 100 x u/pengamatan serat, lemak, karbohidrat, dan kristal 7. Lanjutkan pengamatan 400 x u/pengamatan telur cacing, eri,leuko, sel epitel, amoeba, makrofag, sel ragi Yang mungkin ditemukan : Sel epitel Beberapa berinti sel epitel dapat ditemukan dlm keadaan normal, jumlah sel epitel bertambah banyak bila ada peradangan dinding usus. b. Makrofag Sel2 besar satu, menyerupai amoeba, perbedaannya tidak bergerak c. Leukosit Lebih jelas dengan campuran as acetat 10%, pada disentri basiler dan peradangan jumlah >>>> d. Eritrosit Hanya ada bila ada lesi dalam kolon, rectum/anus, gambaran abnormal e. Kristal pada tinja normal akan ditemukan kristal tripel posfat, calciumoxalat, dan asam lemak. Keadaan abnormal bila ditemukan kristal Charcot leyden dan hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin F. Sisa makanan Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal. Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastis dan lain-lain. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan lugol untuk menunjukkan adanya amilum yang tidak sempurna dicerna. Sisa makanan ini akan meningkat jumlahnya pada sindroma malabsorpsi. g. Sel Ragi Khusus Blastocystis hominis jarang ditemukan. Pentingnya mengenal strukturnya adalah supaya jgn dianggap kista amoeba h. Telur dan jentik cacing Ascaris lumbricoides, necator americanus, dsb Telur ascaris telur necator americanus Telur trichuris trichiura blastocysis hominis kista amoeba amoeba makrofag Kristal hematoidin kristal charcot leyden Kristlal tripel fosfat Darah Samar Untuk mengetahui adanya pendarahan kecil yg tdk dapat dinyatakan dalam makroskopis atau mikroskopis. Identifikasi dapat dilakukan dgn metoda benzidin, prinsipnya haemoglobin sebagai periksidase akan menguraikan H2O2 menjadi H2O dan On. On yg terbentuk akan mengoksidasi benzidin membentuk warna biru kehijauan. Cara pemeriksaan metoda benzidin Buat emulsi feses dgn air kira2 10 mL dan panasi hingga mendidih. Saring emulsi yg masih panas dan biarkan sampai dingin Kedalam tabung reaksi lain dimasukan benzidin basa sbanyak spucuk pisau Tambahkan 3 mL asam asetat glasial, kocok sampe benzidin larut Bubuhi 2 mL emulsi feses, aduk 6.Beri 1 mL lar. Hydrogen peroksida 3%, aduk 7. Hasil dibaca dlm waktu 5 mnt 8. Pengamatan hasil Pengamatan Hasil Neg Tdk ada perubahan Warna Pos 1 Hijau Pengamatan Hasil Pos 2 biru campur hijau Pos 3 biru Pos 4 biru tua Urobilin Pemeriksaan bilirubin akan beraksi negatif pada tinja normal,karena bilirubin dalam usus akan berubah menjadi urobilinogen dan kemudian oleh udara akan teroksidasi menjadi urobilin. Reaksi mungkin menjadi positif pada diare dan pada keadaan yang menghalangi perubahan bilirubin menjadi urobilinogen, seperti pengobatan jangka pnjang dengan antibiotik yang diberikan peroral, mungkin memusnakan flora usus yang menyelenggarakan perubahan tadi.Dalam tinja normal selalu ada urobilin. Jumlah urobilin akan berkurang pada ikterus obstruktif. Pemeriksaan Urobilin Taruhlah beberapa gram feses dalam mortir, campur dgn lar mercuri chlorida 10%,vol kira2 = feses Tuang dlm cawan datar agar lbh mudah menguap Biarkan 6-24 jam Pos= timbul warna merah TERIMA KASIH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar