Jumat, Juni 26, 2015

Kawan

Angin yang menyisir malam ini disambut dengan bekap malam yang makin menusuk..
Tak perlu dilawan hingga biarkan terbang ke lima tahun silam..
Masa dimana langkahku semakin mencoba berlari..
Jati diri katanya...

Kawan...
Waktu memang tak menghiraukan masa lalu..
Tak pula membawanya kembali ke masa kini..
Tapi biarkan sejenak kita terbangkan lamunan ke masa yang penuh dengan sejuta warna persahabatan..ke masa Sederet kenangan yang kita lukiskan bersama..
Karena tanpamu...tanpaku...dan tanpa kita..semuanya tak akan tercipta

Taukah seberapa lama kita tak berjumpa kawan?
Taukah seberapa lama kita tak berkirim pesan kawan?
Taukah seberapa lama kita tak tertawa bersama kawan?
Taukah seberapa lama kita tak saling menatap kawan?
Tapi aku..
Aku tak ingin tahu ...
Karena yang ku tahu kau ada di setiap langkahku..
Karena yg ku tahu kau ada dalam setiap senyumanku...
Karena yg ku tahu kita memang selamanya...

Dengan sedikit menoleh pada masa putih abu...
Menyembulkan senyuman haru...
Ternyata jalan kita panjang...
Ternyata jalan lama pula kita jauh melangkah..
Kini kuingin menepi dan melihat sejauh mana aku telah berjalan..
Tapi tepat di perpisahan kelas itu tak akan kulupakan senyuman kita...
Tepat di hari hari dimana kita bertegur sapa setiap waktu yang tak akan aku hapus...

Masih ingatkah kawan ...
Ketika awal mopd?
Ketika kita berlari dengan wajah polos...
Menyasar mimpi dan menegakan cita cita dengan keyakinan...
Masih tersimpan dalam kobaran jiwa..

Langkah berikutnya...
Kita dipertemukan dalam satu ruangan menuntut ilmu bersama dari almamater yang membuat kita bangga..
Berjalan dengan begitu berwarna..
Dimulai dengan senyuman senyuman kecil...ditantang dengan diskusi yang kadang begitu panas..
Hingga dalam suatu saat kita saling kesal satu sama lain..meski kutahu ternyata kita disakit hatikan karena rasa sayang kita...karena kita saling menguatkan satu dengan yang lain nya..

Masih ada dalam benakku liga ganesha...
Yang berakhir dengan suka duka yang ada..
Disana aku yakin bahwa kita memang kompak...
Disana aku yakin bahwa kita memang kuat..
Bahwa kita memang satu..
Bahwa kita keluarga...
Bahwa kita adalah terbaik..
Bahwa kita terus berjalan dalam satu tujuan..

Lambat waktu berjalan dengan segenap apa yang kita goresan...
Jajanan yang akan slalu kita kenang disetiap sisi sekolah..
Bibitingan yang kini kita rindukan...
Mie tektek yang memanggil kita untuk menepi..
Nasi goreng yang menunggu di keharumannya..
Dan kursi Kopsis yang merindukan kita untuk duduk bersama..bersama bercerita banyolan kecil..
Iyah banyolan kecil sekedar menemani waktu senggang kita..

Kawan coba tutup mata dan rasakan sejenak keadaan di waktu itu..jika kau sudah terlupa..maka pegang tanganku.. akan aku bimbing kau menuju lorong waktu 5 tahun yang lalu..
Rasakanlah berlarian jika hendak jam 7 tiba terkadang kita menghindari bertemu pak edy...
Padahal di hati terkadang bergumam jam sekolah kecepetan..padahal memang kita kesiangan..

Masihkah ada kalimat paling indah dari persahabatan?
Masihkah ada kata paling tinggi selain kekeluargaan?
Masihkah ada realita paling nyata selain saling menguatkan?
Dan itu..
Itu kudapat..dari kau..dari aku..dan dari kita..

festival band...
Selang beberapa tahun mengarungi persahabatan..kita bernyanyi ..melompat..berhujan hujan...melepas kepenatan ujian kala itu..
Iyah bernyanyi yg terkadang bermusik keras seakan melompatkan haralan kita yang tinggi..dirangkum begitu merdu di alunan festival band..

Tapi dalam malam dan siang yg menyengat berlarian menjual kupon demi sebongkah keuntungan kelas...
Di hiasi tenda tenda dan panggung hiburan..
Membuat kita belajar mencari selembar rupiah..
Iyah itulah bazaar..
Dimana ada semangat yang tertanam..
Ada gengsi yang dipertahankan..

Sahabat..
Kau ibarat bintang yang tak setiap saat aku lihat tapi sinarnya menerangi setiap waktu..

Sahabat hakikatnya kita saudara kembar, yang Tuhan  pisahkan rahim antara kita ..

Persahabatan kita ibarat kaki yang terluka, secara spontan mulut akan berkata "aduh" dan tangan pun langsung mengusap dan mengobatinya tanpa diminta

Persahabatan kita ibarat kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya

Persahabatan kita memang tak saling mengerti..tapi saling menerima apa yang tidak dimengerti..

Dan pada akhirnya ...saat ini..
Hanya satu kalimat yang masih terpatri dari bapak kepala tercinta yang tlah berpulang pada-Nya
' selamat datang para calon bupati..menteri ..pejabat..dan pemimpin indonesia...'
Langkah kita sedang berjalan di tengah itu pa...
Kami akan memberi hal terbaik bagi almamater dan negara ini...

Sahabat!

Selasa, Juni 23, 2015

Inginku

Didalam rasa yang membuatku terjebak...aku merasa
Berperang dengan jiwaku sendiri...
Menahan semua kecurigaan...
Tersudut diantara semua kerinduan...
Aku ditengah sejuta keseseriusan terlampau sakit dengan kebohongan...
Aku ingin pergi tapi rasaku yang tak sanggup...
Aku bertahan tapi terus berperang dengan kecurigaan...
Aku hanya ingin ada yang mengatakan semuanya tak seperti itu ...
Aku hanya ingin mendengar rasa curigaku tak ada artinya dibanding rasamu...

Tatap aku jika ku sedang tak percaya...
Pegang tanganku bantu aku bunuh curiga itu..
Peluk aku bisikan ditelingaku bahwa aku memang tak bisa hidup tanpamu...
Jangan biarkan aku mati disergap kecurigaan
Hingga membawaku sunyi dalam kesendirian...

Aku sedang tak mampu melangkah dengan dua kaki...
Bisakan ...kau bantu aku untuk setidaknya berdiri tegap...
Seperti apa yang kuberikan padamu dulu...

Aku hanya ingin itu dan tak lebih..
Aku hanya ingin merasa diberi harga...
Hinggaku berpura untuk pergi..
Itu hanya agar aku kau perhatikan..
Itu hanya agar aku kau tarik hingga aku yakin curigaku tak lebih besar dari rasamu...

Itu inginku...
Hanya itu tak lebih

Selasa, Juni 09, 2015

Takdir

Beribu detik tlah terinjak..
Bermacam hari ditelusuri..
Hingga tiba pada saat ini...
Saat dimana renungan ku terhenti..
Jalan ini telah membawa ku jauh..

Tak terbantahkan jalan tak dapat aku tentukan..
Seperti goresan sukma yg esok hari entah akan kemana..
Seperti dawai yang terus menerus di kibaskan.
Hingga jiwaku kedinginan...

Biarkan aku diarahkan takdir...
Hanya mengikuti satu demi satu yang tuhan berikan..
Hingga aku menghentakan cita cita
Dan semoga menembus batasan waktu..

Seperti itulah..
Langkah yang dinamakan ketetapan..
Kemana melangkah ..
Biar Tuhan membawaku...

Senin, Juni 01, 2015

Habis sudah

   Sudah 850 hari setelah hari memulai segalanya..
Di jam ini , jam 9.25 menit aku terbujur kaku..seakan tak mampu berdiri lagi. Aku sudah tak dapat lagi percaya seperti 850 hari yang lalu.
   Sejenak mencoba menerapkan apa yang aku rasa lewat karya berharap semuanya segera menghilang. Hingga kebahagian mulai terpancar. Namun sejauh ini mentari tak pernah muncul lagi meski rasanya sudah lelah dengan malam yang panjang dan tak kunjung usai. Haruskah dengan 850 hari berikutnya baru ceritanya berbeda?
   Setelah lalu lalang dalam setiap batasan jam menit hingga detik justru semakin membuat terpuruk dan tersudut. Ingin rasanya lari dan mencari agar hilang sesegera mungkin. Kucoba mencari pengalihan tapi tetap saja sakit ini enggan pergi dari kisah ini. Apakah harus aku yang meninggalkan kesedihan? Karena kesedihan tak kunjung meninggalkan aku?
Dengan semua halusinasi dan segenap kesadaran aku belum bisa pergi seutuhnya. Masih terlalu terjal dan tak tertahan emosi dengan keadaan.
   Masih ingin bertahan dalam keadaan meski kepercayaan sirna. Aku terjebak dengan ketakutan yang tak berujung.
Aku ingin pergi jauh hingga terbang dan hilang luka ini.
Mungkin jua terbang  bila keadaan tak berubah.