Minggu, Agustus 23, 2015

Selamat pagi

Pagi menyambut dengan barisan harapan..
Yang satu demi satu tersusun rapi dibuku cita cita..
Menunggu panggilan dari buku takdir yang Tuhan gariskan..
Hingga segalanya berjalan dengan semestinya.

Senada dengan sejuk ke desir dada..
Meresap dalam berterbangan dengan kalimat waktu..
Beriringan dengan apa yang dikatakan ujian..

Kala pagi mulai meninggalkan hari..
Hawanya mulai berubah..
Ada panas yang menjalar dari ubun ubun..
Hingga mulai menekan ketenangan otak..
Merampas satu demi satu batasan hidup

Kala waktu berjalan ke petang..
Sepoinya angin kembali datang
Teduhnya membuat aku lupa..
Bahwa ini pun membuatku lupa
Lupa pada jalan yang mulai membawaku menjauh dari harapan
Aku terbengkalai dengan godaan petang
Padahal ini adalah sisa tenagaku..

Biarkan saja pagi siang petang aku berjalan..
Tapi tetap aku menuju harapan hidup..
Hingga malam mulai mengakhiri cerita hidup..

Rabu, Agustus 12, 2015

Aku..

Semenjak malam aku menahan nafas...
Mengatur detak jantungku agar menghela pelan saja tak perlu buru buru..
Tapi aliran darah terus berpacu seakan tak ingin kehilangan waktu lagi..
Karena harus ku akui jauh di dalam dadaku..aku terluka.
Bahkan aku tak sempat menghela nafas lagi untuk detik ini..

Jalanku menunduk menahan langit runtuh menimpaku..
Mataku terbanting puing puing awan kelam yang jatuh butir demi butir tak dapat ku tahan..
Aku pergi..
Pergi meninggalkan hujan yang tak kunjung reda..
Karena telah kedinginan rasaku..
Menggigilnya tubuh menghancurkan setiap inci organku..

Di nafas berikutnya kucoba mengatur diri..
Sepertinya tekadku sudah teguh ..
Sepertinya niatku telah mengakar..
Kuhentikan segala pesakitan ini..
Aku berperang melawan hati...
Aku berjibaku dengan curiga yang tak terbatas..
Aku akan menghilang dan tak percaya dengan rasa..

Aku mencari tulang rusuk yang masih Tuhan rahasiakan..
Karena jiwaku telah membutuhkannya..aku telah rapuh disenja waktu..

Rabu, Agustus 05, 2015

Jika

Kenapa jika setiap saat melihat pelangi maka semuanya jadi tampak biasa...
Seperti bara yang mengela nafas kemudian terengah engah..
Seperti itulah..

Kenapa terbelenggu itu mudah...
Kenapa pula seperti itu...

Sejauh ini berperang terus aku lakukan...
Hingga kadang terus menggantung dan ikut bergerak..

Batasnya dimana..entahlah..
Tapi pasti ada batasnya..
Hilangnya dimana..entahlah..
Tapi pasti ada titiknya..

Sejauh memandang gulita..
Menandakan begitu terjal dan sayup..
Masih jua aku bertahan dalam ini..
Iya aku masih bertahan..
Meski remuk tak berbentuk..
Meski kadang tak ada isyarat hati tak ada perumpamaan...

Aku berjalan selangkah demi selangkah..
Meneruskan sisa langkah kemarin..
Meski coretan coretan yang kau buat begitu nyata..
Nyata membakar dan terus mengejarku..
Mencekik kedamaianku..
Memotong kesungguhanku..
Tapi kenapa aku bertahan?
Masih terus berharap besok lupa..
Masih berharap besok hilang..
Masih berharap besok lebih baik...
Masih berharap besok ceritanya berubah...

Jalan ini memang begitu gulita..
Dan bukan KAU yang membuatku bertahan...
Bukan pula KAU yang membuat aku berjalan..
Bukan semata KAU yang ada dalam tujuanku...
Melainkan Tuhanku yang memanduku..
Adalah Tuhanku yang padanya aku terus bersyukur tentang semua ini..
Adalah Tuhanku yang aku yakin sedang mengujiku saat ini.
Adalah Tuhanku yang sedang melihat kualitas diriku...