Rabu, Desember 30, 2015

Jika

Jika aku ditarik dan dibiarkan...
Maka putuslah juga kadang benangnya...
Jika hanya dilenyapkan dengan tangga harapan palsu..
Akan ku pergi dengan seluruh jawaban...
Biar meronta rasa ini tapi harga diri ditaruh di halaman depan...

Biar saja...
Aku melepas waktu di dua tiga hari ini...
Sisanya...
Aku ingin menghilang dalam satuan detik..
Merebak dengan bungkusan mentari pagi..

Hey..
Untukku cukup saja ini...
Menghela nafas dalam setiap ucapan dan sangkaan..
Terima saja dalam balutan takdir tuhan..

Senin, Desember 28, 2015

Penguasa

Secarik kertas koran pagi ini penyembuh dahaga..
Pembawa kabar dalam sela sela rakyat berharap lupa..
Begitu jahanam cerita cerita tuan berdasi negeri ini..
Ketika uang berjalan dalam setiap lorong lorong terang..

Kami rindu kabar gembira dari anda tuan berdasi..
Kami rindu target target yang anda canangkan terealisasi..
Kami rindu harga harga kembali sediakala...
Apa harus kami kembali menyalakan cempor cempor kembali...
Apa perlu kami ciptakan kembali tungku tungku untuk kayu bakar agar kehidupan tidak menjepit..

Tuan berdasi ..
Kami sudah lelah dengan mencari sesuap nasi penambah nyawa hari ini..
Jangan tambah dengan berita berita buruk lagi..
Jika tak bisa beri kami ladang makan paling tidak berilah kabar riang..
Bahwa tuan telah menolak gaji karena malu rakyat kelaparan..
Bahwa tuan telah berhasil menjaga tambang negara tanpa bocor..
Bahwa tuan rela tak memakai mobil dinas karena rakyat masih berjalan bertelanjang kaki..
Bahwa tuan tak memakai jam tangan mahal karena rakyat hanya memiliki sepasang baju di tubuhnya..

Tuan berdasi ..
Pagi ini masih sama dengan sebelumnya..

Kami tidak paham dengan impor sapi..
Kami tidak mengerti dana haji..
Kami tidak tahu apa itu hambalang..
Kami tidak tertarik urusan saham..
Kami tidak pernah berbicara dana bansos...
Tidak!
Kami bukan tidak paham tapi tak mau paham!
Kami bukan tidak mengerti tapi pura pura tak mengerti!
Kami bukan tidak tahu tapi sengaja dibuat lupa!
Kami bukan tidak tertarik tapi kami bosan melihatnya!
Kami bukan tidak berbicara tapi memang tak pernah didengar!

Tuan berdasi ..
Kami hanya ingin bercerita pada anak cucu
Bahwa Dulu budaya malu para penguasa begitu besar..
Bahwa tanggung jawab para penguasa begitu tinggi..
Bahwa  penguasa kita begitu sederhana...
Bahwa penguasa kita rela tak makan demi rakyat..
Bahwa penguasa tinggal di gubuk dan rakyat di gedung megah..
Bahwa penguasa itu pelayan rakyat...
Bukan wakil rakyat yang hanya ketika mau dipilih mengaku utusan rakyat..
Ketika mereka naik disinggasana jadi wakil dari bendera bendera yang mereka kibarkan...

Lingkaran tak berujung

Dalam setiap kerak dan landasan pacu selalu ada kerikil
Tajam memang..
Tapi apabila kerikil kecil itu dibawa dari masa lalu
Apa bisa masa lalu yang dihapus?
Telah pada saat dimana hati terbujur layu..
Lelah pula karena tak dapat lepas dari lingkaran hitam.
Iya masih didalam lingkaran ini..
Lingkaran yang seakan akan menerawang jauh melapaskan keinginan jiwa..
Aku harus mundur melepas rantai dan keluar dari lingkaran..
Disaat bersamaan aku harus masuk lagi kelingkaran itu demi pendamping hidup..

Tuhan.
Sesak sekali dunia ini..
Hingga aku tak lepas dari lingkaran yang dulu kuciptakan sendiri..

Kamu yang masih dalam lingkaran..
Kamu tak tahu apapun..
Menerbangkan kelopak kelopak sayap jernih membuatku ingin menyambutmu?
Tapi apa daya ..
Gelap sekali jalanan ini..

Apakah ini keniscayaan?
Entahlah..
Baiknya kupudarkan langkah..
Mengendurkan kalimat..
Mulai berpikir untuk berlalu saja..
Iya berlalu saja..
Karena itu berat buatmu..
Lebih berat bila bersama..

Sabtu, Desember 26, 2015

Begitu


Bila tiap kalimat yang dikatakan dapat dilepaskan maka tidak denganmu Seperti angin kisah kita.. Rasanya begitu kuat namun tak dapat terlihat.. Seperti hujan kita .. Begitu deras hujan membanjiri tanah begitu rasa kita yang terus menggebu.. Sempat aku lupa dulu dimana menaruh hati.. Tapi kini kutemukan tepat di matamu.. Kadang berpindah pada senyum tipismu.. Kemudian bergeser pada sudut hidungmu.. Ya begitu sempurna raut wajahmu.. Seperti kemarin jangan terlalu terburu dibekap waktu.. Seperti hari ini menikmati hanyut dalam jatuh hati.. Seperti esok memandang langit yang sama dalam satu atap.. Harapannya tak akan berujung karena memang semuanya tidak bermula Jika saja menutup mata dapat mengantarkanku padamu maka aku rela selamanya menjadi orang buta.. Jika saja dalam diam dapat kusampaikan isyarat cinta padamu maka aku rela menjasi orang bisu.. Seperti gunung yang dengan tinggi menjulang menggambar tingginya rasa.. Seperti diam dalam rasa.. Seperti menunggu menghepaskan rasa bahagia.. Tak perlu alasan untuk memandangmu.. Tak perlu alasan pula untuk melirik senyum tipismu.. Hanya perlu sedikit kesempatan.. Agar menjelma dalam setiap hamparan rasaku..1

Selasa, Desember 22, 2015

Pagi ini...

Hei...
Katakan sajalah agar selesai..
Telah dapat padaku tentangmu...
Seperti seutas tali yang membelalak mata..
Mengajarkanku mengerti kalimat sindiran..
Tak dijawab...
Hanya seperti sampah yang dilontarkan dan dibuang..
Hei..
Aku bukan pria perkasa penunggu yang gigih..
Sesekali aku juga mengeluh..
Mendekat tak bisa mengejarmu aku tak mampu..
Sudahlah aku tarik diriku..
Menyerah dan menuju takdir baru yang Tuhan cipatakan untukku..
Karena kita..
Kita memang belum apa apa dan sekali lagi kau bersembunyi dalam kalimat ya memang bukan apa apa dan pula tidak ada apa apa..
Aku memang terburu buru..
Aku memang terburu buru..
Aku memang terburu buru..
Iya memang aku terburu buru..
Tak apalah aku menepi digaris dan bagianku sendiri..
Setidaknya aku sudah menunjukan niat dan keseriusanku dengan caraku..

Kamis, Desember 17, 2015

UntukMu TUhan

Aku ingin mengikhlaskan diri karenamu..
Aku ingin mengepak jauh sayapku
Demi menggapai ridhomu..
Aku hanya ingin memulai semuanya dengan kalimat syukur..
Aku hanya akan berjalan dalam setiap kalimat kejujuran yang Kau tetapkan..

Tuhan sama seperti kemarin
Dekatkan hatiku pada jalanMu..

Tuhan..
Segerakanlah takdirku menuju bahagia dunia dan akhirat..
Menghempas  semua takdir takdir buruk..

Ya Rabb
Dalam tengadahku kau berikan aku seribu jalan..
Maka tunjukan pulalah padaku jalan kebahagiaan hakiki dalam kasihMu..cinta orang tuaku..dan penerimaan utuh keluargaku...

Tuhan..
Berikanlah padaku langkah yang pasti..
Mendekat tanpa keraguan..
Menjauh tanpa pengecualian..
Dekatkanlah apa yang memang terbaik untukku..
Dan jauhkanlah yang buruk untukku..

Bukakanlah jalanan lapang demi menyambut pendampingku..
Segerakanlah dia dengan niat karenaMu...
Membuka jalan untuk amalan dalam membina masa depan bersama tak lain untuk menambah ibadah kami..
Memberi dalam keikhlasan dan menerima dalam kewajiban..