Rabu, Maret 29, 2017

Sepertiga malam di hari seterusnya

Tak perlu lagi kalimat kalimat puitis pengantar hari..
Hanya seperti sebuah renungan saja..
Melayang dan bermain main dengan bayangan..
Meskipun tak dapat diraih kembali
Setidaknya sudah pernah merasakan..

Jika satu persatu dihilangkan
Maka hidup hanya ada hari ini..
Itupun tak sepenuhnya dimiliki
Karena dalam sesaat bisa berubah
Sesuai dengan guratan dan tingkah hidup

Tak pasti karena tingkahpun selalu berubah

Bersenang senang dengan waktu
Mencoba mengarahkan detik kesudut harap
Menetapkan jam dalam setiap tindakan
Dan menerpa diri ..

Bertahun sisakan koyakan pemikiran
Yang kadang berujung penyesalan..
Tapi pasti tak ubahnya kenangan
Terpatri dan begitu adanya..
Bahkan menerpa sepertiga malam inipun masih sama
Terasa tapi bak bayangan...
Terlewat tapi bagai angan..
Dilalui namun terasa hilang..
Diloncati , tak lebih dari harapan..

Rasanya hari kemarin dengan takdir itu..
Rasanya mengukir cerita dibalik seragam itu..
Rasanya merajut asa dengan segenggam harap kecil..

Dengan dentuman yang dahsyat semua berbalik..
Kukejar takdir dengan harap beririsan disuatu saat..

Ternyata awan saja tak rela..
Buktinya kelamnya semakin  menghalang pandanganku..
Langitpun ikut mengutuk ...
Nyatanya semakin jauh batas antar langit..
Hingga gapaianku sia sia...

Beribu hari seperti upaya tanpa batas..
Menerawang jauh bergerak maju..
Tanpa sadar telah jauh berjalan..
Pilihan pilihan yang kuambil makin menjauhkan bumi pada langitnya..
Dan tersungkur pula jadinya..
Bagaimana dapat menyentuh langit sementara aku hanya sanggup bersujud ditanah...

Disepertiga malam kembali dalam renungan ..
Seperti biasanya kesadaran dibawa berkelana..
Katanya agar kelak belajar dari waktu yang terlewat..
Nyatanya terjebak dalam lorong waktu awal gerak..

Jika saja ribuan syair dapat mengubah cerita
Tentu telah indah hari ini..
Kesederhanaan adalah penawaran yang tak berguna lagi kini..
Karena kesalahan lakon yang tak bisa kuperbaiki..

Semakin dibunuh dalam setiap jam
Maka akan tumbuh dalam setiap detik..
Hingga dibiarkan berjalan sesukanya..

Tak dapat mendekat karena kesalahan lalu..
Begitu mulia hati setelah lama..
Lama dari jauh slalu memandang..
Meski sekali lagi tak dapat mendekat..

Puluhan juta kata pewaris rasa..
Tapi mentok dijalur rasa bersalah..
Hingga merajut cara terakhir tapi tak dapat juga menebus cerita dihari lama...
Hingga aku berjalan makin menjauh
Mencoba asa yang aku bisa...
Menarik semua khilaf yang digariskan..
Menelan kerinduan dalam kata..

Disepertiga malam maret dalam usia kemanisan...