Minggu, April 24, 2016

Ujung takdir

Tak melulu bercerita tentang malam dingin..
Tak pula hanya bercerita dalam barisnya bayi bayi jatuh cinta..
Ini bukan cuma tentang harapan yang hilang..
Dan bukan juga tentang dilema dalam patah hati..

Semua dalam barisan siap menerkam koran pagi ini..
Yang ceritanya masih seputar nepotisme dan kekuasaan..
Sudahlah kutenggak saja seteguk kopi sebagai pengantar
Rasa panas ini.

Masih pula dalam pagi ini
Tak ada lagi teriakan burung burung kenari didepan pintu..
Bulunya pun tak nampak..
Sudah lama dalam pikirku..
Mungkin masih ditenggak pula dalam cengkraman penguasa..

Dalam tegukan kopi kedua rasanya berbeda..
Teh hambar rasanya..
Tak pelak aku tersentak...
Tapi hatiku berujar..
Bukankah sudah biasa lain dikata dan lain pula yang terasa sama seperti tuan tuan penghuni istana..

Jika pagi biasa nya matahari keluar malu malu..
Tapi hari ini seperti nya dia keluar dengan tak tahu malu..
Jam sembilan panasnya menyengat..
Bahkan orang orang disekilingnya terbakar panas..
Ditambah lagi dengan guyuran hujan panas..
Seperti biasa anomali terus terjadi bahkan tak malu malu lagi.. Melainkaan tak tahu malu..
Seperti tuan tuan yang rela mati untuk hidup penuh harta dan upeti..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar